Fatwa Dewan Pusat SH Terate Sambut 1 Suro 1437 H

FATWA KETUA DEWAN PUSAT SH TERATE

MENYAMBUT TAHUN BARU 1437 H/2015 M

 

Assalamualaikum wr wb.

Salam Persaudaraan

Yang Saya Hormati ……

 

Bapak/Ibu, segenap tamu undangan, yang mohon maaf tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu

Saudara Ketua Cabang SH Terate berikut jajarannya, dan saudara-saudaraku Keluarga Besar SH Terate di seluruh pelosok tanah air dan juga yang berada di manca negara, yang saya cintai

Adik-adik Calon Warga Baru dan Warga SH Terate yang saya sayangi

Puji syukur selayaknya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Penguasa kerajaan langit dan bumi dan Singgasana Araysh Yang Agung. Yang Maha Kasih lagi Pemurah. Tuhan Yang Kuasa menanamkan dan memelihara cahaya keimanan, kesetiaan dan jalinan persaudaraan dalam jiwa.

Dan malam hari ini, kita bersama sama merasakan, sekaligus menyaksikan, hidayah, ridho dan barokah Allah menyatu di dalam dada kita, hingga kita bisa berkumpul di sini dalam acara tasyakuran menyambut tahun baru 1437 Hijriyah, penuh nuansa damai dalam jalinan persaudaraan yang dilandasi rasa asah asih asuh.

Ucapan terimakasih selayaknya kita haturkan kepada perintis, pendiri dan tokoh SH Terate yang telah mendahului kita. Dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang, beliau telah mendidik kita mengenal ajaran budi luhur, tahu benar dan salah, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana tujuan SH Terate yang kita cintai. Menghargai jasa mereka, mari kita berdoa bersama, semoga beliau diampuni dosa-dosanya dan arwahnya ditempatkan di tempat yang mulia, di sisi Allah.Amin.

Bapak/Ibu Segenap Tamu Undangan, Saudara-Saudaraku,

Keluarga Besar SH Terate yang saya cintai.

Alhamdulillah, malam ini sampailah kita di awal tahun 1437 H. Tahun yang dimulai dengan bulan Muharram atau bulan Suro. Bulan penuh rakhmat, tantangan, barokah sekaligus bulan berlumur mukzizat. yang diberikan Tuhan kepada nabi dan rasul panutan umat manusia.

Sirah nubuwah, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam kitab suci-Nya, menginformasikan, beberapa nabi dan rasul mendapat mukzizat, terlepas dari ‘bala” atau bencana, terjadi di bulan Muharram atau bulan Suro. Ambil sebagai contoh, pertemuan Nabi Adam dan Hawa di muka bumi semenjak diusir dari surga, setelah bertahun tahun mereka saling mencari dalam kepapaan , kesunyian dan kesendirian. Kemudian, terselamatkannya Nabi Nuh dan kaumnya dari bencana banjir. Mukzizat yang tak kalah dahsyatnya adalah, terbelahnya Laut Merah saat Nabi Musa dikejar Fir”un dan sekutunya. Hingga, Nabi Musa dan kaumnya selamat, sementara Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di telan ombak laknat

Peristiwa berdimensi mukzizat lain yang terjadi di bulan Muharram atau bulan Suro, masih banyak lagi, yang semuanya memberikan pelajaran bagi kita tentang kebesaran Allah, sekaligus hukuman atas kemurkaan Allah terhadap kaum yang telah bertindak melampaui batas.

Belajar dari situ, marilah kita jadikan bulan Muharram atau Bulan Suro ini sebagai Bulan Mesu Budi, atau Bulan Tirakat, berlomba mendekatkan diri kepada Tuhan dengan memperbanyak laku olah batin dan dharma, guna membersihkan hati, hingga hati kita jadi bersih dan memencarkan sinar kasih, yang pada gilirannya akan menjadikan hidup kita damai, tenteram dan sejahtera.

Sebab, Allah, Tuhan Yang Maha Kasih sangat dekat dan mencintai orang orang yang mau mensucikan batinnya. Dengan kesucian batin itu, kita juga akan bisa intens meresapi nikmat Allah. Dan dengan kesusian batin itu pula, Allah akan senantiasa menjaga dan memayungi kehidupan kita, dengan hidayah, rakhmat, barokah, keselamatan, kedamaian dan kesentosaan. (Sapa sing suci adoh bebaya pati).

Dalam priambole SH Terate, tersurat “Maka Setia Hati pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat-martabat keduniawian tidak kandas/tenggelam pada pelajaran Pencak Silat sebagai pendidikan ketubuhan saja, melainkan lebih menyelami ke dalam lambang pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh jauh kepuasan hidup abadi lepas dari pengaruh rangka dan suasana.”

Mengambil hikmah kebesaran mukzizat yang turun di Bulan Suro itu, para sesepuh SH Terate dan juga kami sebagai penerus, berupaya melestarikan tradisi “tirakatan dan tasyakuran” pada awal bulan Suro. Harapannya, kita akan mendapat limpahan rakhmat, hidayah dan barokah Allah, menjadi manusia berbudi luhur serta bermanfaat bagi sesama. Atau menjadi seorang warga yang berjiwa “SH-wan atau SH-yer”

Seorang warga berjiwa SH-wan atau SH-yer, adalah warga yang memiliki watak dan sifat ksatria, yakni : (1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (2) Pemberani dan tidak takut mati (3) Sederhana (4) Rela mengalah jika berhadapan dengan soal sepele, dan berani bertindak di atas nalar kebenaran jika berhadapan persoalan prinsip (5) Mamayu Hayuning Bawana (Menjaga kedamaian dan kelestarian kehidupan di muka bumi).

Segenap Tamu Undangan, Saudara Pengurus, dan Keluarga Besar SH Terate yang saya cintai

Perlu disadari, kini tugas kita dalam mengemban amanat budi luhur bukannya semakin ringan. Tantangan yang berasal dari dalam maupun luar SH Terate terpampang di depan mata. Gesekan antar kepentingan dan pergeseran nilai di tengah ketatnya persaingan global, menjadi pemicu timbulnya ketidakharmonisan.

Berhadapan dengan fenomena itu, saya meminta kadang SH Terate di mana pun berada menyadari peta diri. Kesadaran ini perlu, demi pencapaian nilai nilai persaudaraan, ketulusan dharma dan keluhuran budi.

Yang dimaksud dengan sadar peta diri, adalah, mengetahui persis di mana posisi kita, sebesar apa potensi yang ada pada diri kita, apa pula yang ada di sekeliling kita, seberapa jauh jarak yang sudah kita lalui dan seberapa jauh lagi jarak yang harus kita lalui agar sampai pada tujuan akhir. Tak kalah pentingnya, adalah mengetahui bagaimana aksi dan reaksi dan daya dukung potensi baik internal maupun eksternal. Dalam konsep tabularasa, kita harus punya daya ukur terhadap diri kita sendiri. Harus proporsional, istilah Jawanya sakdedeg sakpangawe.

Jika saudara sudah sadar peta diri atau mengerti dirinya sendiri (jagad cilik), maka saudara pasti akan dengan mudah mengerti lingkungannya (jagad ageng). Lebih jauh lagi, saudara pun akan menyadari, bahwa saudara hidup di muka bumi ini tidak sendiri, tapi ada orang lain, yang sama sama punya kelebihan dan kekurangan. Punya hak dan kewajiban yang juga sama. Dengan demikian saudara tidak akan bersikap sombong dan meremehkan orang lain, tidak mementingkan diri sendiri. Sebab saudara sadar, bahwa di luar diri saudara, ada orang lain dan juga lingkungan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Pemahaman dan kesadaran seperti yang sudah saya sampaikan di atas itu, merupakan bagian dari proses laku mamayu hayuning bawana. Laku ini, sesungguhnya jika saudara mau merenung lebih dalam lagi, bukan untuk orang lain. Akan tetapi laku yang muaranya untuk kebahagiaan diri pribadi.

Penjabarannya, barangkali ada di antara kita yang suka memelihara unggas. Contoh bebek atau ayam. Karena kita mencintai dan menyayangi hewan itu, maka kita rela menyediakan waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya guna memelihara unggas kesayangan itu. Atas pengorbanan itu pada saatnya, kita pasti diberi imbalan berupa telor, yang sedikit banyaknya sebanding dengan intensivitas kita dalam proses pemeliharaan.

Pertanyaannya, atas kasih sayang dan pengorbanan kita dalam memelihara bebek atau ayam itu, siapa yang akan menikmati telornya? Kita sendiri, bukan? Kalau toh telor itu kemudian saudara jual, uangnya juga masuk ke kantong saudara sendiri. Bukan untuk orang lain.

Begitu pula jika kita dengan tulus mencintai orang lain, manyayangi sesama umat manusia dan alam di lingkungan kita. Pada gilirannya, kita pun akan dicintai orang lain. Dan, tentu saja kita akan dicintai dan disayangi Sang Pencipta. (Cintailah penduduk bumi, maka penduduk langit pun akan mencintaimu.Sapa nandur bakal ngundhuh. Sapa miwiti bakal mungkasi).

Segenap tamu undangan, Saudara Pengurus dan jajarannya, serta Keluarga Besar SH Terate yang saya cintai

Kebenaran tetap harus disuarakan. Aturan wajib ditaati dan ditegakkan. Namun, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa kita telah sepakat untuk lebur ke dalam “persaudaraan sejati”. Yakni, jalinan persaudaraan yang berangkat dari hati nurani, saling cinta mencintai, sayang menyayangi, hormat menghormati dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, dalam bersikap maupun menyuarakan pendapat, hendaknya saudara mengedepankan nilai nilai persaudaraan. “Ojo waton omong, nanging omong kang nganggo waton”. Sebab, di samping SH Terate menggariskan aturan aturan tertulis produk parapatan atau musyawarah, seperti AD/ART, Surat Keputusan, Fatwa dan lain sebagainya, masih ada aturan, baik tersurat maupun tersirat, terformat dalam “Aturan Adat atau Hukum Adat” yang bersumber pada prinsip prinsip dasar tradisi keilmuan (ke-SH-an) dan nilai nilai persaudaraan sejati, yang juga wajib kita patuhi.

Dalam konsepsi ajaran yang telah diwariskan oleh leluhur SH Terate, disitu bahkan para leluhur kita telah menempatkan organisasi hanya sekadar syarat bentuk lahir, sebagai ikatan antara saudara. Seperti yang tersurat dalam priambole ; “Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate, sebagai ikatan antara saudara Setia Hati dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa dan pemancar cita.”

Memegang teguh konsepsi ini, sudah sepatutnya kita selalu bersikap santun, mengedepankan kepentingan masyarakat dan mudah memaafkan kesalahan orang lain (gung samodra pangaksami). Dengan mengedepankan keluhuran budi semacam itu, sesungguhnya saudara telah ikut menjaga citra dan martabat SH Terate. Hingga keberadaan SH Terate di manapun tempatnya, akan tetap diterima masyarakat. Bersikaplah penuh kesederhanaan dan terus berkarya untuk kebaikan sesama, hingga membuat masyarakat tentram dan terlindungi. (Ojo sok gawe ala ing liyan, apa alane gawe seneng ing lilyan).

Segenap tamu undangan, Saudara Pengurus dan jajarannya, serta Keluarga Besar SH Terate yang saya cintai

Persaudaraan yang kita anut adalah persaudaraan sejati. Persaudaraan yang berangkat dari kesucian hati, saling hormat menghormati, sayang-menyayangi, cinta mencintai dan bertanggung jawab. Persaudaraan yang tidak memandang siapa aku dan siapa kamu, tidak dilandasi hegemoni keduniawian, seperti drajat, pangkat dan martabat, persaudaraan yang terbebas dari perbedaan suku, ras, agama dan antargolongan.

Pesan saya, jaga baik baik persaudaraan ini, dahulukan kepentingan orang lain dan masyarakat dari pada kepentingan diri sendiri. Sebab, sebaik baiknya manusia di muka bumi ini adalah manusia yang sadar diri dan bermanfaat bagi kehidupan sesama (ngerti dharmaning sasami).

Kepada Ketua Cabang dan jajaran pengurus serta Panitia Tasyakuran menyambut bulan Suro, saya ucapkan terimakasih atas ketulusan dharma saudara, hingga acara ini terlaksana dengan baik. Yakinlah, dharma bhakti saudara, pasti mendapatkan imbalan dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelum mengakhiri sambutan saya, mari kita bersama-sama bersemboyan.

SELAMA MATAHARI MASIH BERSINAR, SELAMA BUMI MASIH DIHUNI MANUSIA, SELAMA ITU PULA SH TERATE, TETAP JAYA, KEKAL ABADI, SELAMA-LAMANYA.

Wassalamualaikum Wr Wb

Madiun, 1 Muharram 1437 Hijriyah/ Oktober 2015

KETUA DEWAN PUSAT SH TERATE

 

 

KRH. H. TARMADJI BOEDI HARSONO,S.E

Sumber : Lawu Pos Oktober 14, 2015

Ahmad Rohani

About Ahmad Rohani

Warga PSHT dari Teluk Kuantan Kab. Kuantan Singingi Provinsi Riau Berdomisili di Kab. Sanggau-Kota Pontianak-Kalimantan Barat No. HP 08126829665