PERANG INFORMASI (INFORMATION WARFARE) : ANCAMAN DAN TANTANGAN

“Hence to win one hundred victories in one hundred battles is not the acme of skill. To subdue the enemy without fighting is the supreme excellence.” (Sun Tzu – China) (Memenangkan seratus kemenangan dalam seratus pertempuran bukanlah puncak dari keunggulan. Menundukkan musuh tanpa pertempuran adalah keunggulan tertinggi).

Energi fosil lambat laun akan habis dan digantikan dengan bio energi, sasaran konflik akan mengarah pada lokasi sumber pangan yang sekaligus merupakan sumber energi. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki sumber daya alam dan energi yang melimpah akan menjadi sasaran dan incaran negara lain dan menjadi arena persaingan kepentingan internasional. Adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru diantaranya Perang Asimetris, Perang Hibrida dan Perang Proxy sehingga kemungkinan terjadinya perang konvensional antar negara semakin kecil. Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi dan persiapan yang matang agar bangsa Indonesia mampu menjamin tetap tegaknya keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, SE menyatakan penggunaan hard power atau kekuatan militer dalam aspek tertentu tidak lagi populer dan dinilai tidak efisien1). Sehingga muncul cara baru yang jauh lebih efisien dengan kerusakan yang lebih dahsyat, yaitu menggunakan Soft Power, melalui bentuk peperangan seperti Culture Warfare, Economic Warfare, Financial Warfare dan Information Warfare. Agar para prajurit TNI siap menghadapi perang baru tersebut, TNI harus sedia payung sebelum hujan, jangan sampai perang itu ada, TNI tidak punya alat perang yang memadai. TNI harus melakukan respon cepat dan beradaptasi serta perencanaan Alutsista harus berjalan dalam konteks menghadapi dengan perang gaya baru ini. TNI sudah mempelajari perkembangan situasi terkini dan kedepan yang harus dihadapinya, termasuk menyiapkan personel dan alutsista yang canggih untuk menghadapi perang gaya baru tersebut.

Pihak asing memasuki wilayah pertahanan satu negara tidak lagi mengunakan kekuatan militer dan Tentara secara massif namun lewat “efek dominan”. Salah satu efek dominan adalah “media”, terutama media sosial yang dinilai media tercepat untuk mengantarkan gelombang opini. Kita lihat bagaimana cepatnya ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) diperkenalkan oleh negara yang menciptakannya, agar dikenal dan dapat menarik simpati serta dapat merekrut pengikutnya di seluruh dunia. Mengunakan metoda “invasi” tidak memungkinkan bagi Negara-negara adi daya saat ini, akhirnya lewat metoda “proxy war” mereka hadir. Mengingat inilah celah dan inilah media untuk memasuki sebuah kedaulatan atas negara setelah pergolakan besar mereka picu.

Publikasi dokumen rahasia Pemerintah dan beberapa institusi penting dari berbagai negara oleh Julian Assange melalui situs www.wikileaks.org dan Edward Snowden mantan staf NSA melalui situs chronicle telah menimbulkan keresahan dan ketegangan beberapa negara. Indonesia juga mengalami dengan adanya pemberitaan dari media Australia yaitu The Age dan Sydney Morning Herald, 11 Maret 2011 dan The Australian pada Sabtu 14 Desember 2013 2). Pemberitaan tersebut sangat menyudutkan pihak Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk tujuan politis tertentu.

Termasuk pemberitaan pemakaian jam mewah oleh mantan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko oleh beberapa media ternama Singapura antara lain Strait Times pada 16 April 2014, Mothersip.sg pada 22 April 2014, situs The Millenary3). Yang perlu diperhatikan bukan isi
dari pemberitaan tersebut, namun waktunya (moment), dimana saat itu bangsa Indonesia akan menggelar peristiwa penting yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014.

Kemungkinan tujuan pemberitaan tersebut merupakan kegiatan pihak asing untuk menilai bagaimana rakyat Indonesia menyikapi isu yang berkembang, menjatuhkan kredibilitas seseorang karena yang menjadi sasaran adalah tokoh penting dan untuk pengalihan isu/perhatian atas agenda dan kepentingan asing yang akan dimainkan menjelang tahun politik. Perang Informasi sudah dilakukan oleh beberapa Parpol kontestan Pemilu 2014 dan terbukti sangat efektif. Rangkaian dari peristiwa tersebut menandakan bahwa Indonesia sedang menjadi target sebuah peperangan baru yang dinamakan Perang Informasi (Information Warfare/i-War/IW).

Perlunya mengetahui tentang i-War merupakan sebuah upaya untuk memperoleh gambaran secara umum serta membangkitkan minat untuk memperhatikannya sehingga dapat mempersiapkan diri menghadapinya. Munculnya i-War sebagai bentuk kekhawatiran terhadap meningkatnya ketergantungan masyarakat sosial juga bisnis, termasuk organisasi dan negara, akan aliran arus komunikasi dan informasi yang makin terbuka, bebas dan cepat sehingga rentan gangguan dan dapat segera mengancam seluruh sendi kehidupan modern bila diserang.

Dengan mengenal Perang Informasi agar kita tidak mudah terkaget-kaget, terheranheran, tersinggung dan marah-marah jika mendengar berita-berita miring, isu-isu negatif, kabar-kabar indah tapi semu, hujatan, makian, hinaan dan statement-statement agak panas karena kita sudah bisa memilah serta memahami apa sebenarnya signal dan pesan yang ingin disampaikan ke khalayak umum. Apa maksud pesan sesungguhnya ? Ranah politis atau pergumulan seru dalam konteks Perang Informasi.

Baca selanjutnya, klik disini.

Oleh: Kolonel Chb Mardikan, S.H.,M.Si.,M.M.Sc.
Penulis adalah warga PSHT tahun 1990, perintis & pengembang PSHT di Papua 1995-2005, sekarang Ketua Cabang Khusus PSHT di Dhaka Bangladesh

Yuk bagikan!

About Humas PSHT

Humas PSHT kepengurusan 2016 - 2021