Kasus kerusuhan antardua kelompok massa yang sejauh ini mewarnai tindak kriminalitas di Madiun dan sekitarnya, menjadi perhatian ekstra serius Polres Madiun. Menjelang bulan Muharam (Sura) 1426 Hijriyah, polisi mengumpulkan pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraaan Setia Hati Tunas Muda Winongo. Sedikitnya, 150 warga terlibat dalam acara silaturahim yang digelar di RM Surya Mas, kemarin.
Wakapolres Madiun Kompol Joko Wiswoto, menuturkan, acara ini sengaja digelar sebagai media antisipasi terjadinya tindak kerusuhan antar-kelompok massa dalam menyambut hadirnya bulan Sura. “Mari kita ciptakan suasana kondusif dalam menyambut bulan Sura di wilayah Madiun,” ujarnya.
Meski diakui itu lebih tersulut oleh emosi oknum kelompok masa, lanjut Joko, langkah antisipasi dengan saling instrokpeksi dan mawas diri perlu diterapkan. Sebab, menyitir ajaran pokok kedua perguruan itu, yakni budi luhur, intinya adalah pengendalian diri. “Seperti pernah saya dengar ajaran dari salah satu perguruan silat di Madiun, yaitu ajaran yang berbunyi aja sok gawe alane liyan, apa alane gawe senenge liyan, ” ujarnya.
Polisi, tegas Wakapolres, tidak akan mentoleransi jika terbukti masih terjadi tindak kekerasan antar-kelompok di di bulan Sura mendatang. “Siapa pun akan kita proses jika terjadi melakukan tindak kekerasan. Tidak ada lagi penangguhan penahanan. Kita akan ciptakan efek jera terhadap pelaku,” katanya.
Sunarto, tokoh persilatan dari Wungu menyambut baik langkah positif yang dilakukan Polres Madiun. Menggenapi itu, pihaknya minta agar acara silaturahim ini tidak hanya digelar di tingkap Polres, tapi dirutinitaskan di setiap Mapolsek. “Langkah antisipasi lain seperti razia minuman keras dan meminta pemilik warung minuman menutup warungnya setelah jam sembilan atau sepuluh malam, perlua pula digalakkan di wilayah Polsek,” katanya.
Sebab, berdasar pengamatannya, terjadinya tindak kekerasan massa sering kali dipicu oleh faktor minuman keras. (ace)
http://jawapos.co.id

Follow




Tinggalkan Balasan