“Oknum”, Mantra Sakti Internal Organisasi

Mari kita mulai dengan sebuah kesepakatan bersama, bahwa di negeri ini, kata “oknum” adalah mantra sihir paling ampuh, termasuk di internal organisasi, tak terkecuali PSHT.

Kata “oknum” adalah penghapus dosa baik yang dilakukan oleh individu maupun massal yang jauh lebih ampuh daripada mantra sihir yang sering diucap oleh dukun manapun.

Dalam panggung sandiwara dinamika sosial, tidak ada yang lebih mahir merapal mantra ini selain para pengurus di organisasi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Setiap kali gesekan pecah di jalanan, entah itu konvoi motor yang berisik, perusakan fasilitas publik, atau adu pukul yang membabi buta, kita semua sudah tahu akhir ceritanya.

Skenarionya klise, membosankan, namun hal ajaibnya selalu berhasil lolos dari tanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat. Paradox sederhana, terjadi keributan, atribut organisasi terlihat jelas di kamera, press rilis keluar dengan kalimat sakti, “Itu dilakukan oleh oknum, bukan cerminan organisasi.”

Lalu, Pooofff! Beban moral organisasi langsung menguap, lenyap ke udara, bersih, suci, kembali fitri.

-Pabrik “Oknum” Skala Industri

Jika kita melihat frekuensi keributan yang berulang, kita patut kagum dengan kapasitas produksi “oknum” di dalam tubuh PSHT.

bukan lagi sekedar kasus pengecualian, melainkan sudah terlihat seperti produksi massal. Bagaimana bisa, sebuah organisasi yang menjunjung tinggi ajaran budi luhur, persaudaraan, dan spiritualitas, justru memiliki jumlah “oknum” yang seolah tidak ada habisnya?

Mungkin masalahnya ada pada definisi operasional. Jangan-jangan, dalam kurikulum pelatihan, ada bab khusus yang luput kita ketahui, misalnya: Tata Cara Menjadi Oknum yang Hakiki Setelah Jam Latihan Selesai.

Jika tidak, bagaimana kita menjelaskan fenomena ratusan orang berkaus seragam yang bergerak sistematis, dan masif dalam satu komando keributan, namun mendadak berubah status menjadi “bukan bagian dari kami” begitu berhadapan dengan hukum? Ini benar benar sebuah keajaiban.

-Cuci Tangan Dengan Retorika

Berlindung di balik frasa “oknum” adalah bentuk seni cuci tangan tingkat tinggi. Alih-alih memberikan sanksi tegas seperti somasi, atau peringatan tertulis ke pihak yang bersangkutan lalu diumumkan ke publik, pembekuan ranting yang bermasalah, atau penyerahan pelaku secara sukarela ke pihak kepolisian, organisasi justru lebih memilih menggunakan tameng retorika.

Sanksi tegas tampaknya menjadi barang mewah yang sayang untuk dikeluarkan. Kenapa harus repot mengevaluasi sistem kaderisasi atau memperketat disiplin keanggotaan jika selembar kertas press rilis berisi kata “oknum” sudah cukup?.

Mari kita jujur. Menepuk dada sambil memamerkan jargon “Memayu Hayuning Bawana” (memperindah keindahan dunia). Lalu, terasa sangat ironis ketika di saat yang sama, masyarakat harus mengelus dada melihat ketertiban, keamanan, dan ketentraman umum yang rusak akibat ulah oknum.

-Refleksi : Menanti Pendekar yang Berani Bertanggung Jawab

Sebuah organisasi besar seharusnya memiliki nyali yang sama besar dengan jumlah anggotanya.

Jika berani mengerahkan massa dalam jumlah ribuan untuk acara seremonial, seharusnya pihak tersebut juga memiliki keberanian yang sama untuk mengontrol, mendisiplinkan, dan menindak hal negatif yang lahir dari internal anggotanya sendiri. Sederhananya, organisasi harus tegas!.

Terus menggunakan tameng “oknum” hanyalah bentuk pembodohan yang dibungkus pakaian sakral kebesaran organisasi. kalau boleh jujur, publik sudah lelah dengan komedi putar ini.

Jika PSHT sungguh ingin dihormati sebagai penjaga tradisi dan budi luhur melalui pendidikan pencak silat, berhentilah bertindak seperti korporasi yang sedang melakukan manajemen resiko terkait publikasi.

Buang kamus kata “oknum” itu. Gantilah dengan tindakan konkret, yakni sanksi tegas tanpa pandang bulu. atau jangan jangan, disiplin internal organisasi memang sedang mati suri?

Sebab, jika semua pelanggar aturan terus dianggap sebagai oknum, sembari berharap semua lenyap lalu memuai ke kayangan, maka lambat laun kita akan sampai pada satu kesimpulan yang menggelitik.

“Jangan jangan, yang benar “setia hati” di dalam organisasi tersebut justru adalah para oknum itu sendiri, sedangkan sisanya hanyalah penonton yang sibuk mengetik surat klarifikasi.”

Yuk bagikan!

About sojianto