Gebrakan PSHT Banjarbaru: Saat Calon Warga Diajak Ngobrol, Bukan Uji Nyali Menghadapi Malaikat Maut

(Suasana Tes Mental dan Ke-SH-an dari PSHT Cabang Banjarbaru, Kalimantan Selatan dalam rangkaian Tes Calon Warga yang digelar selama dua hari, Sabtu – Minggu (30-31/5/2026). Foto:// Pengurus Cabang)

BANJARBARU — Kalau Anda mendengar kalimat “tes mental siswa sabuk putih”, apa yang langsung terbayang di kepala anda?

Apakah Latihan malam beraroma horor? Bentakan Warga senior yang urat lehernya nyaris putus? Atau ritual guling – guling di comberan sambil merenungi nasib, “kenapa dulu mendaftar jadi siswa, padahal rebahan di kamar jauh lebih estetik?”

Nah, kalau Anda mengira PSHT Cabang Banjarbaru, Kalimantan Selatan bakal melestarikan tradisi jaman batu itu untuk menyaring siswa putih angkatan 2026, selamat! tebakan anda salah besar.

Alih-alih menyuruh siswa push-up mengepal di atas aspal panas, mereka justru menggelar tes mental dan materi Ke-SH-an dengan metode yang sangat manusiawi: wawancara privat empat mata.

Para siswa diajak duduk manis, berhadapan langsung dengan para sesepuh senior dan Warga Tingkat II yang punya kharisma tingkat dewa. Dengan begini, cukup duduk saja sudah cukup membuat 62 siswa putih dari 7 ranting dan komisariat keringat dingin (padahal cuma duduk).

Di momen ini, tidak ada ceritanya tangan melayang atau tendangan maut tanpa bayangan yang bersarang di dada. Yang ada justru adu argumen, uji stabilitas emosi, dan membedah sejauh mana pemahaman siswa tentang Setia Hati dan organisasi. Tujuannya? Melatih keberanian dan kecerdasan.

Sebuah langkah progresif yang bikin kita semua kemudian membatin, “Lho, ternyata bisa toh mencetak pendekar tanpa harus bikin badan siswa memar biru biru?”

– Siklus Dendam Berkedok “Pembentukan Karakter

Langkah elegan dari Banjarbaru ini sejujurnya adalah tamparan yang sangat keras (bahkan mungkin bikin merah pipi) bagi para oknum pelatih di banyak daerah.

Sudah jadi rahasia umum, bahwa di kalangan akar rumput, istilah “tes mental” atau “tes fisik” sering kali cuma jadi ajang balas dendam kultural yang dibungkus rapi.

Dalihnya selalu sama dan sudah karatan dari zaman penjajahan: membentuk karakter biar punya mental baja, bukan mental tempe (katanya sih).

Tapi realitas di lapangan kadang kebablasan sampai bikin malaikat maut geleng-geleng kepala. Mari kita intip rapor merah “kreativitas” oknum pelatih yang sempat viral dan diabadikan oleh internet:

1. Kasus Boyolali (Mei 2025):

Seorang remaja berinisial M (17) tewas saat latihan rutin. Dua pelatihnya melepaskan tendangan maut ke perut dan dada. Mungkin maksudnya menguji ilmu kebal, tapi sayangnya organ dalam manusia modern ternyata bukan terbuat dari beton.

2. Tragedi Malang (September 2024):

Remaja 17 tahun tewas dikeroyok 10 oknum anggota hanya karena perkara sepele: dituduh memakai atribut organisasi padahal belum sah jadi Warga. Sebuah solidaritas sempit yang sungguh membagongkan.

3.Insiden Instiper Yogyakarta (Mei 2024):

Seorang mahasiswa tewas mengenaskan setelah menerima paket lengkap, pukulan dan tendangan sabit di ulu hati saat sesi sambung (latih tanding) dini hari. Hasil pemeriksaan medis? Usus besar dan kecilnya robek. Mantap sekali pembentukan karakternya, langsung tembus ke akhirat.

Kultur kekerasan ini terus beregenerasi karena dirawat oleh logika sesat di lingkaran setan akar rumput: “Dulu waktu saya masih sabuk polos dihajar sampai muntah oleh senior, sekarang saya sudah pakai kain mori, ya gantian!.” Begitu saja terus mutar sampai Banjarbaru berubah jadi gurun pasir.

– Tameng Sakti: “Yang Penting Niatnya Baik”

Nah, kalau deretan kasus di atas mulai diusut atau dikritik, biasanya tameng pertahanan terakhir yang dikeluarkan oknum pelatih adalah kalimat sakti mandraguna: “Tapi kan kami begitu karena niatnya baik, Mas. Biar siswanya kuat dan disiplin.”

Sungguh, ini merupakan pembelaan yang romantis, tapi sekaligus bikin logika kita jungkir balik. Repotnya, di negeri ini, “niat baik” sudah seperti kartu bebas penjara dalam permainan monopoli.

Seolah jika niatnya sudah dicap “baik”, maka beragam cara barbar di lapangan otomatis mendapat pemakluman dari Tuhan, norma sosial, dan hukum pidana.

Realitanya? Niat baik yang tidak diiringi dengan cara yang baik itu namanya bukan mendidik, melainkan menyiksa berkedok kepedulian.

Mau menanam karakter pendekar, tapi caranya pakai hukum rimba. Niatnya pengin bikin mental siswa sekeras baja, tapi eksekusinya malah bikin organ dalam siswa robek, bahkan sampai nyawa melayang.

Kalau cara melatihnya masih mengandalkan ego dan emosi purba, ya jangan heran kalau output yang dihasilkan bukan pendekar yang berbudi luhur, tapi jagoan yang hobi konvoi sambil cari musuh di jalanan.

Falsafah Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia) yang adiluhung pun mendadak mengkerut di tangan oknum pelatih.

maknanya mungkin berubah jadi kompetensi “siapa yang pukulannya paling keras, dia yang paling SH”. Sungguh sebuah penyederhanaan yang bikin menangis para pendiri organisasi terdahulu.

– Titah dari Majelis Luhur: Tolong Emosinya Dikondisikan

Kabar baiknya, kegelisahan melihat borok perpeloncoan berkedok niat baik ini tidak cuma dirasakan oleh netizen budiman yang suka julid.

Di level elite organisasi, lampu merah dari Anggota Majelis Luhur PSHT, sekaligus perintis PSHT Cabang Banjarbaru, Simun Sofyan, dengan sangat gamblang mengoreksi model latihan jaman batu yang ternyata masih eksis di lapangan.

Beliau mengingatkan kembali khitah asli organisasi agar para pelatih tidak bertindak layaknya mandor romusha.

“Pendidikan di PSHT itu mengarah ke pembentukan karakter, dan pengendalian diri lewat berlatih pencak silat, jadi arahnya orang yang sudah berlatih di PSHT kepribadiannya bisa berubah jadi lebih baik, bukan sebaliknya,” tegas Simun Sofyan.

Nggak cuma kasih teori saja, Anggota Majelis Luhur ini juga langsung menembak tepat ke jantung kebiasaan buruk oknum pelatih dadakan.

Beliau menyebutkan satu per satu ritual nirfaedah yang wajib ditendang jauh-jauh dari kurikulum latihan lokal.

“Untuk segala bentuk melatih yang tidak baik, seperti bentakan, siswa direndam di lumpur, hingga sambung yang berujung ke emosi tolong untuk ditiadakan, mari berbenah,” lanjutnya.

Mendengar kutipan di atas, seharusnya para pelatih yang hobi mendidik pakai urat leher, bentakan, dan air comberan langsung merasa tersedak dan buru-buru kabur dari dunia ini.

– Sebuah Refleksi: Putus “Lingkaran Setan” yang Terlanjur Mengakar

Mari kita menepi sejenak ke pojokan padepokan untuk merenung secara jujur. Kenapa sih lingkaran setan perpeloncoan ini awet banget, mengalahkan awetnya formalin untuk mayat?

Jawabannya sederhana, karena kita terjebak dalam delusi kenyamanan masokistik. “Ada kepuasan psikologis yang keliru ketika seorang mantan korban berhasil naik kasta menjadi pelaku.” Inilah tatanan ego sektoral yang sangat beracun.

Untuk memutus rantai setan ini, cara berpikir di akar rumput harus dibongkar total lewat tiga refleksi mendasar, yakni

1. Hentikan Estafet Dendam:

Menjadi Warga yang disegani itu bukan diukur dari berapa kali Anda sukses melayangkan tendangan ke ulu hati siswa tanpa kena Pasal KUHP.

Putus rantai pikiran kuno “saya dulu diginiin, maka kamu harus diginiin”. Generasi tangguh tidak dicetak dengan menduplikasi trauma masa lalu, melainkan berbenah ke arah yang lebih baik.

2. Redefinisi Makna “Mental Baja”:

Dunia sudah berubah. Musuh masa depan adik-adik siswa putih 2026 ini bukan lagi musuh fisik, melainkan kerasnya persaingan ekonomi, ujian integritas, dan stabilitas emosi.

Jika tes mental hanya urusan fisik, maka samsak yang dihajar ribuan kali itu akan jauh lebih punya mental ketimbang kita manusia (jika ia hidup).

3. Tegas Memanusiakan Manusia:

Menghargai tradisi bukan berarti merawat kebodohan yang telanjur mengakar. Kebiasaan merendam siswa di lumpur atau bentakan tanpa konteks itu bukan kurikulum beladiri, melainkan hilangnya kreativitas metode melatih.

Lingkaran setan ini hanya bisa hancur jika para pelatih muda sadar bahwa tugas mereka adalah mendidik manusia untuk menjadi pendekar yang memikat dunia dengan keluhuran budi, dan prestasi. bukan menjadi algojo dadakan yang bikin orang tua cemas setiap kali anaknya pamit berangkat latihan PSHT.

– Banjarbaru Sudah Memulai, Yang Lain Kapan?

Apa yang diinisiasi oleh PSHT Banjarbaru lewat ujian wawancara privat empat mata ini adalah bukti nyata atas seruan “mari berbenah” dari Majelis Luhur, sekaligus aksi nyata memotong mata rantai lingkaran setan yang telah disajikan di atas.

Mereka sukses membuktikan bahwa esensi dari persaudaraan itu dimulai dengan memanusiakan manusia, bukan sekadar modal jargon “niat baik” semata.

Menghadapkan siswa pada berbagai pertanyaan filosofis Ke-SH-an yang memeras otak itu sebetulnya jauh lebih mematikan mental ketimbang menyuruh mereka guling guling di tanah.

Lagipula, zaman sekarang musuh pendekar bukan lagi kompeni Belanda yang bisa dijatuhkan pakai rangkaian jurus, melainkan inflasi, isi dompet, dan ego diri sendiri sudah jadi tantangan nyata yang perlu perhatian kita bersama.

Gebrakan di Banjarbaru ini jelas sebuah oase segar. Tapi ya itu, kembali lagi, bahwa tantangan terbesarnya sekarang ada di pundak kita semua yang masih berkecimpung di organisasi (yang sudah tidak aktif, gak ikut maido aja sudah sukur).

Selama instruksi tegas dari Majelis Luhur tidak dibarengi dengan sanksi organisasi yang konkret, seperti membekukan ranting atau somasi tertulis oknum pelatih yang bandel, maka model ujian humanis yang out of the box di Banjarbaru ini cuma akan jadi anomali keren yang terisolasi.

Sebab kita semua tahu, mengubah isi kepala pelatih yang telanjur kecanduan superioritas fisik dan budaya “hajar dulu urusan belakang, yang penting niatnya baik” itu jelas jauh lebih sulit ketimbang menyuruh siswa sabuk putih menghafal seluruh senam dan jurus sampai khatam.

Yuk bagikan!

About sojianto