Memahami Dua Ruang Berbeda Antara Tingkatan Organisasi Dan Keilmuan

Ada satu hal yang mungkin membuat sebagian warga PSHT mengernyitkan dahi sambil bertanya :

“kok bisa seseorang di organisasi masih tercatat sebagai Warga Tingkat I, tetapi mengaku secara sanad keilmuan sudah Tingkat II atau bahkan Tingkat III?”

Tenang. Ini bukan dongeng, masalahnya, kita terlalu rajin mencampur dua hal yang sebenarnya punya ruang berbeda, yakni organisasi dan keilmuan.

Dalam organisasi, perkara tingkat tentu jelas, ada mekanisme pendidikan, seleksi, pengesahan, dan aturan yang menentukan seseorang sudah sampai tingkat keilmuan tertentu.

Kalau belum mendapatkan legitimasi organisasi sebagai Tingkat II, ya secara organisasi tetap Tingkat I, tidak perlu ngeyel. Tetapi, manusia ternyata tetap punya kehidupan di luar formulir organisasi.

Manusia bisa belajar, bisa berguru, bisa bertemu guru lain, bisa menjalani laku, bisa mendalami ke-SH-an, dan dalam tradisi perguruan, proses semacam itu dapat berlangsung melalui sanad keilmuan.

Maka sangat mungkin ada orang yang secara organisasi masih Tingkat I, tetapi dalam sanad keilmuan yang ia jalani telah sampai Tingkat II. Bahkan, bisa saja Tingkat III.

“Lho, kok bisa?”

Ya bisa saja. Sebab, yang satu bicara tentang status seseorang di dalam organisasi, sedangkan yang satunya bicara tentang sejauh mana perjalanan keilmuan seseorang menurut guru dan sanad yang diikutinya.

Dalam hal ini, Ki Hajar Harjo Utomo punya murid di masa generasi awal SH PSC (sebelum PSHT) sangat banyak sekali, dan rata rata punya murid yang dibimbing hingga ke tingkat III.

Jadi, jangan dibuat runyam. Kalau di organisasi ditanya, “Sampeyan tingkat berapa?”

Jawabannya: “Tingkat I.”

Selesai.

Tidak perlu menjawab, “Secara sanad sebenarnya saya Tingkat III.”

Malah kalau begitu, publik bakal bingung, karena informasi yang diterima belum tentu dapat dipahami dengan baik. Lebih parah, kita justru bisa dibilang ngelantur.

Begitu pula ketika seseorang memiliki sanad keilmuan Tingkat II atau III, bukan berarti ia boleh datang ke acara organisasi dengan atribut Tingkat II atau III dari jalur tersebut.

Jadi, profesionalitas organisasi harus tetap kita junjung tinggi. Belajar keilmuan tentu boleh, namun status tingkatan di organisasi juga sudah punya aturan.

“Baju tingkat itu bahasa organisasi, sementara sanad adalah perjalanan keilmuan.”

Keduanya harus tau diri dan tempat. Justru menurut saya, kemampuan membedakan dua hal ini adalah bagian dari profesionalitas seorang warga PSHT.

Ia tidak menggunakan keilmuan untuk menabrak aturan organisasi. Tetapi, ia juga tidak menganggap bahwa status keanggotaan otomatis menghapus seluruh kemungkinan seseorang belajar dari guru dan sanad keilmuan di luar struktur organisasi.

Organisasi punya kewenangan untuk mengatakan:

“Di dalam organisasi kami, kamu masih Tingkat I.”

Dan tentu itu harus dihormati.

Sementara dalam ruang keilmuan, seorang guru bisa saja mengatakan:

“Dalam sanad yang saya ajarkan, kamu sudah sampai Tingkat II.”

Keduanya tidak harus didebatkan. Sebab, organisasi bukan satu satunya ruang tempat manusia belajar menjadi manusia, apalagi soal ilmu setia hati.

Yang sering menjadi masalah justru ketika kita merasa tingkat organisasi adalah ukuran tunggal kedalaman seseorang.

Padahal, orang bisa saja tinggi tingkatnya, tetapi dangkal penghayatannya. Sebaliknya, orang yang secara organisasi masih Tingkat satu bisa saja sudah bertahun tahun serius mempelajari keilmuan melalui sanad tertentu.

Maka jangan buru-buru heran ketika mendengar:

“Organisasi saya Tingkat I, tetapi sanad keilmuan saya Tingkat II.”

Itu bukan otomatis klaim jabatan, melainkan dua informasi yang punya ruang berbeda.

Yang satu menjelaskan posisi administratif organisasi, yang satu lagi menjelaskan perjalanan keilmuan. Dan warga yang profesional mestinya tahu kapan harus memakai yang mana.

Kalau rapat organisasi, ya jadi warga organisasi. Kalau berguru, ya jadi murid sesuai jalur keilmuan mana yang diikuti.

Tidak perlu setiap kali duduk ngopi kemudian mengeluarkan kartu tingkat seperti sedang presentasi sertifikasi.

Sebab semakin jauh seseorang berjalan dalam keilmuan, semestinya semakin paham bahwa tingkatan bukan mahkota untuk merasa lebih tinggi.

Kalau akhirnya ilmu hanya membuat kita sibuk menjelaskan bahwa kita lebih tinggi dari orang lain, jangan jangan yang bertambah baru tingkatnya (bukan penghayatannya).

Soal organisasi, tingkatan bisa saja terlihat secara jelas, namun soal keilmuan, siapa yang tau??.

 

Ditulis oleh : Sojianto

Yuk bagikan!
Tags:

About sojianto