Nyawiji Atau Mangro Tingal?

“Kain mori tak pernah beri ijazah pengkhianatan.” Hakikat ajaran SH Terate adalah keteguhan memegang sumpah, bukan kepiawaian merawat dendam dan memutarbalikkan fakta.

Sejarah mencatat rekam jejak yang telanjang di hadapan kita semua:

1. Keteladanan Nyawiji (Kangmas Zakaria & Kangmas Subagyo TA)

Ketika badai perbedaan sempat membuat jarak, jiwa ksatria mereka memilih tunduk pada kebenaran hukum dan marwah ajaran. Kangmas Zakaria pada 2017 dan Kangmas Subagyo TA pada 2019 berani menanggalkan ego pribadi untuk Nyawiji—kembali bersatu ke rumah besar yang sah demi keutuhan PSHT. Inilah wujud nyata pendekar sejati: berani mengakui fakta dan menomorsatukan persaudaraan di atas segalanya.

2. Tragedi Mangro Tingal

Sebaliknya, sejarah juga merekam pintu kebaikan dibalas dengan duri pembangkangan. Ketika Alm. Kangmas Tarmadji mewasiatkan untuk “mengumpulkan balung yang terpisah”, Mas Taufiq di PARLUH 2016 merangkul undang kembali saudara-saudara yang diasingkan—termasuk Kangmas Moerdjoko yang dipulihkan statusnya dan bahkan diamanahi jabatan Ketua Harian. Namun apa balasannya? Amanah itu justru dikhianati dengan aksi kudeta September 2017. Diberi rumah, malah merusak tiang penyangganya. Inilah nilai hakiki dari mangro tingal—menduakan sumpah dan khianati saudara sendiri demi kekuasaan.

Nyawiji Atau Mangrotingal

Kita kutip lagi Wasiat alm Mas Tarmadji : “Jangan mangro tingal (bersikap mendua). Sebab jika saudara mangro tingal, itu sama artinya saudara cidra janji (mengingkari janji). Baik janji pada diri sendiri maupun janji setia pada SH Terate.”

Secara tekstual (makna asli sesuai yang tertulis), wasiat tersebut peringatan moral agar warga tidak menjadi pengkhianat dan munafik di dalam rumah sendiri, bukan instruksi picik untuk mematikan akal budi dan melarang warganya menuntut ilmu.

Panggilan Batin Untuk Saudara-Saudara PSHT

Buka mata, bersihkan mata hati. Mengapa kalian masih rela diadu domba demi membela elite yang sejarahnya berulang kali cidra janji?

Kalian berlatih menahan lapar, panas, dan pukulan bukan untuk dijadikan tameng hidup ambisi segelintir oknum. Kebenaran hukum telah terang-benderang, legalitas telah inkrah, dan pintu persaudaraan selalu terbuka lebar.

Menyadari kekeliruan dan berbalik arah menuju kebenaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak keberanian seorang pendekar.

Tinggalkan doktrin kebencian. Saatnya kita pulang, rapatkan kembali barisan, dan Nyawiji menyongsong Parapatan Luhur 2026 demi kejayaan abadi Persaudaraan Setia Hati Terate!

Yuk bagikan!

About admin

Hendra W Saputro | Denpasar - Bali | Pengesahan 1993 | Digital Marketer [IG] hendraws