Banjir, tanah longsor, angin kencang, permukaan air laut naik, ombak besar, sepertinya akan menghiasi kehidupan kita sampai entah kapan. Berita duka berdatangan dari Bojonegoro, Solo, Bali, Jakarta dan lain-lain. Mari kita bersama-sama menyelesaikan persoalan alam dan sosial ini, karena pada dasarnya PEMERINTAH tidak mampu lagi. Berikut adalah surat dari SOLO.
Hen, pada hari rabu tgl 26 des 2007 adalah hari bencana buatku &seluruh warga kota Solo. Karena pada hari itu kota Solo terendam banjir selama 2 hari. Pengalaman itu adalah yg pertama & terkelam bagiku. Pada jam 10 pagi aku ditelp sama mertuaku. Aku disuruh pulang karena ada banjir, kupikir mungkin banjir biasa yang menggenangi jalan depan rumahku.
Tapi pas aku pulang, ditengah jalan kumelihat orang-orang pada panik. Aku kaget melihat air banjir yang sudah sampai pinggang orang dewasa. Setelah aku sampai rumah banjir belum sampai ketempatku. Setekag 15 menit baru air datang hingga masuk kedalam rumahku. Setelah setengah jam air didalam rumahku sudah sampai diatas lutut.
Aku langsung mengungsikan anak serta ibuku kerumah kakak ku yang tidak kena banjir. Sampai malam air juga belum surut. Listrik padam. Pada malam hari aku istirahat diatas tumpukan meja & kursi. Sungguh pada malam itu aku seperti ditengah laut yang tidak ada penerangan sama sekali. Tim SAR tidak ada yang datang. Selama 2 hari aku hanya makan indomie. Itulah hen sekelumit cerita, pengallamanku……..
Catatan: Seperti dituturkan oleh Mas Eko Yuniardi (PSHT Solo – 08122589376 email: zarah_wulan@yahoo.com) dalam suratnya kepada Sdr Hendra W Saputro

Follow




Tinggalkan Balasan