Dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), tata krama dan sopan santun adalah bagian yang sangat fundamental. Ajaran mengenai cara menyapa atau menyebut warga senior (atau sesama warga pada umumnya) menggunakan sapaan kekeluargaan yang sangat khas, yaitu:
• “Mas” (untuk laki-laki)
• “Mbak” (untuk perempuan)
• “Kang Mas” (digunakan khusus untuk menghormati sesepuh, pelatih utama, tokoh senior, atau pengurus pusat)
Sapaan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan memiliki makna filosofis dan aturan spiritual yang sangat dalam di lingkungan PSHT, antara lain:
1. Menghapus Sekat Usia dan Status Sosial
Sapaan “Mas” atau “Mbak” didasarkan pada usia ke-SH-an (tahun pengesahan), bukan usia biologis atau status sosial di luar. Artinya, seorang pejabat negara berusia 50 tahun yang baru disahkan menjadi warga PSHT, wajib memanggil “Mas” kepada seorang pemuda berusia 20 tahun yang sudah lebih dulu disahkan menjadi warga. Ini mengajarkan egalitarianisme (kesetaraan).
2. Melatih Penundukan Ego (Andhap Asor)
Bagi orang yang lebih tua secara umur atau memiliki jabatan tinggi di dunia nyata, memanggil “Mas” kepada anak muda tentu membutuhkan kelapangan dada. Inilah cara PSHT melatih andhap asor (kerendahan hati) dan mematikan ego serta kesombongan duniawi pesilatnya.
3. Simbol Persaudaraan Sejati
PSHT tidak menggunakan istilah “Suhu”, “Guru”, atau “Master” antar sesama warganya (kecuali sapaan “Pelatih” saat sedang sesi latihan fisik). Penggunaan sapaan kakak-beradik ini menegaskan bahwa begitu seseorang disahkan, ia masuk ke dalam satu ikatan keluarga besar sedarah (Persaudaraan) yang tidak bisa diputus.
4. Disertai “Salam Persaudaraan”
Dalam praktiknya, sapaan ini biasanya diiringi dengan gestur khas, yaitu mengucapkan kalimat “Salam Persaudaraan” sambil menyilangkan tangan kanan dan menempelkannya di dada sebelah kiri (tepat di jantung/hati). Ini menyimbolkan bahwa persaudaraan tersebut berasal dari hati yang tulus (Setia Hati).
Budaya memanggil “Mas” dan “Mbak” inilah yang membuat ikatan emosional antar warga PSHT di mana pun mereka bertemu menjadi sangat kuat, meskipun sebelumnya tidak saling kenal.
Melihat betapa dalamnya makna kerendahan hati dan persaudaraan dari ajaran sapaan ini, apakah menurut Kangmas, Mas, Mbak, dan Dik, nilai-nilai luhur seperti ini masih dijaga dengan baik oleh generasi muda PSHT saat ini?
HWS

Follow





Tinggalkan Balasan