Jawaban tegasnya adalah Tidak. Ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) atau Setia Hati Terate (SH Terate) sama sekali tidak berada di atas agama Islam maupun agama apa pun.
Ini adalah sebuah miskonsepsi (kesalahpahaman) yang sangat penting untuk diluruskan. Berikut adalah dudukan porsi yang sebenarnya mengenai hubungan antara PSHT dan Agama:
1. PSHT Bukanlah Sebuah Agama
PSHT adalah wadah organisasi pencak silat, ikatan persaudaraan, dan tempat pendidikan karakter (Budi Pekerti Luhur). PSHT bukanlah agama, bukan sekte spiritual, dan bukan jalan teologi. Fungsi PSHT murni untuk membentuk fisik yang kuat dan karakter sosial yang baik di dunia.
2. Agama Adalah Hukum Tertinggi (Hierarki Mutlak)
Bagi seorang Muslim, sumber kebenaran mutlak dan aturan tertinggi kehidupan adalah Al-Qur’an dan Hadits (Syariat Islam). Posisi agama ada di puncak hierarki. Ajaran moral PSHT (seperti peduli sesama, berani membela yang benar, dan bersaudara) sejatinya adalah alat untuk membantu mempraktikkan Akhlaqul Karimah (akhlak yang baik) yang diperintahkan oleh Islam, posisinya tentu tetap tunduk di bawah syariat.
3. PSHT Justru Mewajibkan Warganya Beragama
Pilar pertama dan paling utama dalam PSHT adalah asas “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Organisasi ini tidak menerima individu yang tidak beragama (ateis). PSHT justru mendorong agar warga PSHT semakin taat menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Jadi, warga PSHT yang beragama Islam dituntut untuk menjadi Muslim yang taat, menjaga shalatnya, dan patuh pada Tuhannya.
4. Jika Ada Benturan, Agama Harus Didahulukan
Seorang pendekar sejati yang “Setia pada Hatinya” pasti tahu mana yang hak dan batil. Jika suatu saat ada instruksi dari oknum pengurus, kebiasaan, atau tradisi di lapangan yang bertentangan dengan aqidah atau syariat Islam (misalnya mengarah pada kesyirikan, anjuran berbuat anarkis, atau meninggalkan shalat karena alasan latihan), maka warga tersebut wajib mendahulukan hukum Allah dan menolak penyimpangan tersebut.
Kesimpulannya, nilai budi luhur PSHT harus berjalan beriringan dengan nilai agama, namun Agama Islam (bagi penganutnya) tetaplah payung utama yang tidak bisa digantikan atau diungguli oleh aturan organisasi buatan manusia.

Follow





Tinggalkan Balasan