Kalau ada penghargaan untuk organisasi yang paling jago bikin jantung netizen berdegup kencang samnil mengelus dada, maka Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) jelas berada di daftar teratas.
Entah ajaran bela diri seperti apa yang digeluti, tapi konon katanya, mereka diajari filosofi “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah konsep luhur untuk memperindah keindahan dunia.
Niatnya sungguh sangat mulia, dan menyejukkan. Namun, begitu mereka ini turun ke jalan raya, entah kenapa filosofi adiluhung sebagus itu mendadak menguap bersama asap knalpot brong.
Sebuah hal kontradiktif lalu hadir yang kemudian bikin kita mikir, “apakah kurikulum pendidikan pencak silat untuk membentuk karakter tidak sinkron dengan realitas di lapangan?”
– Kerap Menghiasi Kolom Berita Kriminal
Setiap kali ada gesekan di jalanan, template jawaban yang keluar selalu sama: “Itu ulah oknum.” Masalahnya, kalau oknumnya hobi konvoi massal sampai bikin macet, mungkin kalau para oknum ini dikumpulkan, bisa bisa mereka membuat cabang baru!.
masyarakat sipil yang cuma mau berpergian ke luar rumah kan jadi bingung membedakan mana yang “oknum” dan mana yang “pendekar asli”.
Jadi, mari kita tengok jejak digital di internet yang untungnya tidak hilang begitu saja:
– Mengeroyok Aparat : Di Jember, ketertiban umum benar-benar diuji, ketika 13 oknum anggota PSHT ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jatim lantaran mengeroyok seorang polisi. Iya, anda tidak salah baca, bayangkan saja, aparat penegak hukum saja dihajar, apalagi kita yang cuma masyarakat sipil?
– Tragedi Ditegur, Lalu Dihajar: Di Bandung, ada warga yang nasibnya apes luar biasa. Hanya karena menegur rombongan konvoi yang bising dan meresahkan, ia malah bernasib dikeroyok oleh empat pendekar di depan kampus Itenas. Jadi, sejak kapan jurus bela diri dipakai untuk membungkam kritik atas ketidaknyamanan publik?
– Tawuran Antar Perguruan: Di daerah basisnya seperti Magetan dan Madiun, ketegangan antar perguruan silat (biasanya melibatkan PSHT dan PSHW atau Pagar Nusa) seolah jadi agenda musiman usai acara pengesahan, atau acara apa pun yang melibatkan kerumunan anggota yang banyak. Percayalah, hubungan para pendekar silat ini jauh lebih rumit dan panas daripada rivalitas suporter bola.
– Kesetiaan Buta Berujung Jeruji: Di Boyolali, tiga oknum pesilat PSHT ditangkap polisi setelah menganiaya seorang pemuda secara beramai-ramai. Alasan klasiknya karena hal sepele, yaitu seputar validasi seragam dan keanggotaan, karena korban bukan merupakan anggota di PSHT namun berani mengenakan atribut organisasi.
– Ribut Dengan Suporter Bola: Bahkan atmosfer syahdu Yogyakarta pun sempat ternoda ketika rombongan pesilat terlibat bentrok dengan suporter bola. Bahkan, akibat kejadian ini sejumlah fasilitas publik, sampai peninggalan organisasi bersejarah Taman Siswa ada yang rusak.
-Solidaritasnya Bagus, Tapi Merepotkan!
Esensi dari kata “Persaudaraan” pada nama PSHT itu sebenarnya indah. Ia mengajarkan ikatan batin yang kuat. Namun, dalam psikologi massa di jalanan, persaudaraan ini sering kali menyempit jadi loyalitas buta.
Prinsipnya berubah menjadi: “Gak peduli saudaraku bener atau salah, sing penting melu ngrewangi (yang penting ikut bantuin).”
Akibatnya, esensi pencak silat sebagai warisan budaya dan sarana olah spiritual luhur perlahan bergeser di mata publik. Alih-alih dipandang sebagai ksatria penolong, kehadiran rombongan berbaju sakral hitam di jalanan justru sering mendapat predikat “hama” dari masyarakat umum.
-Refleksi : Adakah Upaya Mitigasi Dari Organisasi?
Selama jajaran pengurus pusat, cabang, ranting, sampai rayon, dan para sesepuh hanya menyelesaikan masalah dengan rilis permintaan maaf bermaterai tanpa ada evaluasi nyata terhadap sistem pembinaan mental anggotanya, maka pola seperti ini hanya akan terus berulang.
Menanggapi hal ini, seharusnya pengurus bukan lagi hanya sekedar mengeluarkan himbauan, dan teguran. namun, harus berani mengambil langkah tegas berupa somasi, hingga sangsi tertulis kepada yang bersangkutan agar menimbulkan efek jera!
Pesilat sejati dinilai dari kemampuannya meredam amarah, bukan sebaliknya. Jadi, penegakan disiplin organisasi tidak lagi menunggu ketukan palu hakim di pengadilan negara.
Struktur internal organisasi harus membentuk tim pengawas di lapangan yang mandiri untuk mendeteksi, mencegah, serta meredam benih radikalisme kelompok ini sebelum semakin meresahkan masyarakat umum!.
– Penutup : Kembalikan Jiwa Sakral Hitam Itu!
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat sebuah perguruan silat dari seberapa banyak jumlah massanya, melainkan dari seberapa besar manfaat kehadirannya.
Mengembalikan marwah Memayu Hayuning Bawana ke dalam sakral hitam kebanggaan organisasi itu bukan lagi sebuah pilihan, melainkan utang moral yang harus segera dilunasi oleh seluruh keluarga besar organisasi.
Jika baju sakral hitam itu ingin kembali dihormati sebagai lambang ksatria, dan bukan lagi dicemaskan sebagai sumber petaka di jalanan, maka revolusi mental spiritual dari dalam internal organisasi dan segi kepelatihan harus segera diwujudkan.
Berhentilah berlindung di balik tameng “ulah oknum,” sebab di bawah langit yang sama, satu kepalan tangan yang keliru, dan pendeknya sumbu logika sudah cukup untuk meruntuhkan ketulusan yang telah dibangun dengan keringat dan air mata para leluhur pendiri organisasi ini.

Follow




Tinggalkan Balasan