Dinamika PSHT? Lihatlah Dari Sudut Pandang aturan AD/ART.

Semua orang hidup pasti punya masalah? Manusia mana yang tidak punya masalah? Dalam lingkup kecil keluarga saja pasti memiliki masalah. Apalagi sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat begitu banyak orang yang tentu pemikiran dan keinginannya beragam.

Hampir 4 Tahun, Organisasi PSHT berjalan terseok-seok oleh dinamika yang terjadi. Mengapa ini bisa terjadi? Lantaran ada pihak-pihak yang tidak puas dengan kepengurusan pusat yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Lalu para oknum tersebut menghalalkan segala cara dengan menabrak semua aturan yang disepakati dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

Dalam menjalani roda kehidupan tentu ada aturan yang telah ditentukan, kita tidak bisa hidup seenak udel saja dengan apa yang kita lakukan.

Dalam persepektif agama, kitab suci merupakan aturan yang mengikat dalam sendi kehidupan beragama. Aturan berbangsa dan bernegara aturan yang mengikat yaitu hukum dan undang-undang. Lalu bagaimana dengan suatu organisasi, apa yang mengikat dan mengaturnya? Jawabannya adalah AD/ART.

Saat ini, dinamika organisasi PSHT telah terjadi. Adanya dinamika sebenarnya sangatlah wajar. Hikmah dari dinamika yang terjadi dalam suatu organisasi  adalah menjadikan organisasi  tersebut akan lebih dewasa dalam berorganisasi kedepannya. Walau pun tentu meninggalkan sejarah kelam dalam berorganisasi.

Menilik perjalanan PSHT kebelakang, organisasi ini sudah puluhan tahun tidak menjalankan amanat AD/ART dalam berorgansasi. Setelah meninggalnya (Tarmadji Budi Harsono) ketua umum terdahulu, Maka semua insan PSHT memiliki satu visi dan misi bersama untuk melaksanakan perapatan luhur (baca: musyawarah besar). Mereka bersepakat ingin mewujudkan organisasi PSHT menuju organisasi yang besar dan maju dengan tata kelola yang professional.

Maka di tahun 2016, Bersepakatlah untuk mengadakan PARLUH, untuk menetapkan kepengurusan PSHT Pusat periode tahun 2016-2021. Palu sidang pun telah di pukul, artinya bertanda kesepakatan telah sah dan disetujui oleh semua pihak.

Semua pihak berkompeten juga membubuhkan tanda tangan. Artinya mereka setuju dan sepakat dengan hasil musyawarah yang dilakukan.Riuh tepuk tangan pun terdengar menggelegar di ruang sidang dengan disambut senyum bahagia para pesertanya. PARLUH telah usai dengan satu kesepakatan, hal ini ditandai dengan tidak ada satu pihak pun yang walk out/absten keluar ruang sidang dengan keberatan atas putusan.

Jika dalam perjalananan berorganisasi, ada kebijakan ketua umum yang tidak sejalan dengan anggota, apakah ketua umum boleh diganti? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus merujuk pada aturan main yang telah disepakati dalam AD/ART tahun 2016. Apakah ada dasar hukum yang mengatur dalam pekara itu.

Dalam ilustrasi gambar diatas, kita melihat kedua belah pihak berseteru menentukan apakah ini angka 6 atau 9. jika dilihat dari kedua sisi yang berberda. pendapat mereka keduannya sangatlah benar. angka tersebut bisa 6 ataupun 9 jika dilihat dari kedua sudut yang berberda. maka untuk menentukan kebenaran angka tersebut. kita harus merujuk kesepakatan diawal, dari sudut mana kita memandangnya bersama.

Nasi sudah menjadi bubur, kini dalam tubuh PSHT terjadi dualisme kepengurusan pusat. Setelah ada oknum yang mendeklarasikan melaksanakan PARLUH kembali di tahun 2017. Pertanyaanya, apa dasar PARLUH tersebut? Apakah sudah membuktikan kesalahan ketua umum? Apa sudah pernah digugat kepengurusan PSHT di tahun 2016 di jalur hukum dan bagaimana hasilnya? Sebagai warga PSHT (anggota PSHT), melihat polemik dalam tubuh PSHT, harusnya kita bersikap kritis dalam menentukan sudut pandang.

Warga PSHT adalah manusia dewasa yang tentu bisa berpikir dan memiliki pengetahuan dalam menilai suatu objek permasalahan. Sebagai warga yang cerdas tentu kita akan melihat suatu permasalahan dari dua sudut pandang. Kita tidak boleh menganalisa dinamika PSHT dengan kaca mata kuda. Hanya satu sisi sudut pandang saja. Seyogyanya kedua sisi kita analisa dan kaji, lalu selanjutnya kita bisa mengambil kesimpulan dan menentukan sikap.

Apakah sudut pandang itu? Suatu proses melihat dan memposisikan  diri dengan membuat penilaian dan menentukan kesimpulan terhadap suatu objek (masalah) yang ada. Tentunya dalam membuat suatu pandangan bedasrakan proses perjalanan . maka dalam menentukan sudut pandang  kita berkaitan dinamika PSHT. Kita harus melihat segala sesuatu dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda. Namun tetap mengacu pada AD/ART  yang telah disepakati bersama.

Isu yang di hembuskan bahwa ada salah satu kubu PSHT yang akan memindahkan pusat PSHT ke Jakarta-Jogja, apakah benar? Jawabanya kita tinggal lihat AD/ART kubu tersebut apa benar menyatakan seperti itu

Atau isu ketua umum harus berdomisili di kota Madiun? Mari kita lihat kembali AD/ART apakah memang ada aturan seperti itu.

Apapun isu yang berkembang yang sengaja dihembuskan, rujukan akhirnya adalah AD/ART. Karena AD/ART merupakan kitab suci dalam berorganisasi yang telah disepakati bersama.

Sebagai warga PSHT dalam menyikapi dinamika ini, harusnya kita melihat, mendengar, dan mencari informasi dari kedua sisi sudut pandang. Tanyakan secara langsung ke pihak yang berkompeten. Kalau di daerah adalah ketua cabang. Tanyakan alasan ketua cabang, apa dan mengapa mereka mendukung salah satu ketua umum yang ada.

Dari alasan kedua kubu, lalu dianalisa dengan mengacu pada AD/ART yang disepakati bersama saat PARLUH di tahun 2016.  Karena pokok permasalahan dari oknum yang tidak puas adalah kinerja kepengurusan PSHT pusat periode tahun 2016-2021.

Penulis : Muhammad Solihin, S.Pd Ketua PSHT Cabang Paser-KALTIM

Yuk bagikan!

About M Solihin

PSHT Cabang Paser-KALTIM