Dont Worry Be Happy … Walau Engkau Seorang Diri Dalam Menegakkan Prinsip Kebenaran

Oleh : Muhammad Solihin Lentera Dunia

Dulurku kinasih seantero nusantara.

Merinding tubuh ini, ketika mendengar kisah para tokoh yang berani menegakan sebuah prinsip kebenaran. Berkaca dari sejarah, ternyata orang-orang yang menegakan kebenaran adalah manusia-manusia yang memiliki prinsip diri dalam menapaki kehidupan. Mereka bukan kuat, mereka bukan berani, mereka bukan sakti. Tapi meraka tidak ingin hatinya terjajah dengan kesewenang-wenangan dan keangkara murkaan.

Tegakan kebenaran, jika engkau memiliki keberanian. Selemah lemahnya iman adalah diam dengan cara mendoakan. Jika memiliki keberanian maka tegakan kebenaran itu.

Dulur, masih ingat peristiwa Muharram 2017 ? Dimana ketua umum PSHT terpilih dari hasil parapatan luhur (MUBES) 2016 berusaha dilengserkan dengan tidak hormat dari sebuah rekayasa kasak kusuk dan strategi penghasutan yang dilakukan secara masif oleh pihak-pihak tertentu? Apapaun alasanya tentulah perbuatan itu sangat tidak elok dan mencederai rasa paseduluran kita.

Ada mekanisme yang berlaku dalam pergantian Ketua Umum yg diatur dalam tatanan aturan organisasi yang mengikat kepada semua anggotanya, yaitu landasan Ad/Art.

PSHT bukan organisasi kemarin sore dan juga anggota didalamnya pun bukan kumplan orang-orang bodoh yang tidak paham tata cara dan tata kelola berorganisasi.

Sejak tahun 1951 PSHT sudah mengenal yang namanya berorganisasi bedasarkan AD/ART. Cikal bakal PSHT berdiri sejak tahun 1922 di prakarsai bapak Ki Hajar Harjo Utomo.

Ironis sekali melihat pemandangan yang ada saat ini. Beberapa oknum pimpinan daerah (oknum ketua cabang) yang notabene wakil dari ribuan anggota didaerah, tanpa pernah kompromi atau meminta saran pertimbangan/urun rembuk dalam mengambil sebuah keputusan tiba-tiba bin ujug-ujug ikut andil dalam usaha menggulingkan pucuk kepemimpinan ketua pusat.

Harusnya sebagai pimpinan didaerah, mereka berhati-hati dalam menyikapi konflik yang sengaja dibuat ditingkat elit pusat karena suatu kepentingan dengan menghalalkan segala cara.

Sebenarnya, dalam menyikapi dinamika ini berpikirnya sangat sederhana sekali. Jika memang benar ketua umum melakukan kesalahan yang merugikan atau mencemarkan nama baik organisasi, maka silahkan dilaporkan dan digugat kepengurusannya sesuai mekanisme yg di atur dalam AD/ART kita yaitu forum Majelis Luhur. Kemudian nanti Majelis Luhur lah yg akan memanggil yg bersangkutan dalam sidang Majelis Luhur.

Jika memang terbukti bersalah maka Majelis Luhur lah nanti yg akan menjatuhkan sangsi administrasi sesuai dengan tingkat kesalahannya.

Pertanyaanya, apakah hal ini sudah dilakukan?

Fakta yg terjadi adalah hal ini tidak dilakukan dan yg dilakukan adalah sidang jalanan yg dilakukan secara terbuka yg dilakukan oleh oknum2 yg mengatasnamakan Majelis Luhur dan Oknum2 utusan cabang dengan mendompleng kegiatan malam satu suro, yg jelas2 bukan merupakan forum sidang seperti yg diatur dalam AD/ART. Dari sini bisa kita lihat secara gamblang bahwa tindakan ini tidak dibenarkan secara aturan organisasi maupun ajaran PSHT.

Logika berpikir yg lain, jika memang ketua umum melakukan kesalahan yang prinsip tentu semua anggota PSHT akan sepakat mendepak ketua umum dan kepengurusannya. Tapi Kenyataan dan fakta yg ada masih banyak dulur PSHT yang mencintai dan percaya kang mas Dr. Ir. H. Muhammad Taufik, SH, M.Sc sebagai ketua umum PSHT dan kang mas Ir. RB. Wiyono sebagai majelis luhur yg terus mendedikasikan dirinya untuk kejayaan organisasi PSHT.

Pertanyaan kita sekarang adalah apakah kepengurusan PSHT hasil parluh 2016 cacat hukum?

Sampai detik ini tidak ada satu pembuktian pun secara resmi dari pemerintah yang dapat membatalkan kepengurusan PSHT tersebut.

Pertanyaan sebaliknya saudaraku, jika ada perbuatan/pelaksanaan parluh tandingan tahun 2017 apakah yang menjadi dasar hukumnya? Padahal jelas di atur dalam AD/ART bahwa Parluh dilaksanakan 5 tahun sekali dan tidak di atur yg namanya parluh di percepat atau parluh luar biasa.

Saudaraku, yang namanya kebenaran tidaklah mesti dianut oleh orang banyak.

Meskipun seorang diri dalam menggenggam kebenaran. Tidak perlu berkecil hati ketika kita hanya bersendirian dalam memegang prinsip kebenaran, walau lainya berbeda sudut pandang.

Baginda Nabi Muhammad S.A.W awalnya seorang diri dalam menegakan nilai nilai kebenaran. Walaupun seluruh kota memusuhi beliau.

عليك بطريق الحق ولا تستوحش لقلة السالكين وإياك وطريق الباطل ولا تغتر بكثرة الهالكين

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22)

« طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ »

“Beruntunglah orang-orang yang asing.” “Lalu siapa orang yang asing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang sholih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Saudaraku kinasih. Dalam memegang sebuah prinsip, kita akan terasa asing atau bisa jadi diasingkan dari khalayak umum. Dimusuhi dan dijauhi. Itu semua sudah menjadi lika liku dalam menegakan kebenaran. Namun itu semua begitu indah rasanya, jika kita memegang prinsip diri. Yakinlah, kebenaran akan mencari jalannya sendiri dengan ridho ilahi.

Yuk bagikan!

About Humas PSHT

Humas PSHT kepengurusan 2016 - 2021