Ada sebuah kisah kecil dalam perjalanan panjang PSHT yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Kisah tentang seorang murid yang kemudian menjadi tokoh penting dalam perjalanan organisasi. Namun, jauh sebelum namanya dikenal, sebelum menduduki jabatan dan berada di tengah berbagai dinamika organisasi, ia pernah menjadi seorang siswa.
Dan yang menarik, orang yang melatihnya ternyata bukan sosok yang asing dalam sejarah PSHT. Ia adalah seorang warga yang lebih dahulu disahkan beberapa tahun sebelumnya.
Sang guru disahkan pada 1970. Dua tahun kemudian, sang murid menerima pengesahan, tepatnya pada 1972. Iya, murid atau siswa tersebut kini menduduki jabatan di organisasi. Sayangnya, hal itu direngkuh dengan cara yang kotor.
Selisih dua tahun mungkin terlihat sederhana. Tetapi, dalam sebuah organisasi pencak silat, angka itu memiliki makna. Ada proses belajar di dalamnya, ada generasi yang lebih dahulu menerima ilmu, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Di situlah hubungan keduanya bermula, seseorang melatih, lalu yang lainnya belajar.
Tidak ada yang istimewa dari pemandangan semacam itu pada masa tersebut. Sebab, memang begitulah ilmu diwariskan. Dari pelatih kepada siswa, dari warga kepada warga, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Namun waktu membuat kisah sederhana itu menjadi menarik.
Sang murid kemudian tumbuh menjadi salah satu tokoh dalam perjalanan PSHT. Namanya pernah berada di pusat perhatian organisasi, dan menjadi bagian dari episode penting sejarah PSHT setelah gejolak organisasi pada 2017.
Sementara orang yang dahulu melatihnya tetap berjalan di jalurnya sendiri.
“Ia tidak berada di depan panggung.”
Tidak pula menjadikan hubungan guru dan murid itu sebagai identitas untuk mendapatkan pengakuan.
Bahkan ketika kisah tersebut hendak diketahui lebih luas, sang guru justru memilih untuk tidak mempublikasikannya, bahkan saat ditanya alasan dibaliknya, ia memberi pernyataan mengejutkan.
“Kenapa harus diceritakan?” Singkatnya.
Di sinilah cerita ini menjadi lebih menarik.
Sebab dalam organisasi, orang sering kali lebih mudah mengingat siapa yang menjadi ketua daripada siapa yang pernah menjadi guru.
Kita hafal jabatan, kita mengingat periode kepengurusan, kita mencatat siapa yang memimpin pada suatu masa.
Tetapi, kita sering lupa bahwa setiap tokoh besar dalam sebuah organisasi pernah menjadi manusia biasa yang belajar kepada seseorang.
Sebelum seseorang berdiri di depan forum, ia pernah berdiri sebagai siswa.
Sebelum mengajarkan kepada orang lain, ia pernah diajari.
Sebelum memberi arahan, ia pernah menerima arahan.
Dan sebelum namanya tercatat dalam sejarah organisasi, ada guru yang mungkin tidak pernah tercatat di sana.
Itulah sisi lain dari sebuah sejarah yang sering luput diperhatikan, bahwa Sanad keilmuan tidak mengenal jabatan.
Seorang murid kelak bisa saja memiliki jabatan lebih tinggi daripada gurunya. Tetapi, jabatan tidak menghapus hubungan yang pernah terjadi di masa lalu.
Ketua tetap pernah menjadi siswa, dan tokoh besar sekalipun tetap pernah belajar.
Seseorang yang kemudian dikenal banyak orang tetap memiliki masa ketika dirinya hanya seorang murid yang menunggu koreksi dari pelatihnya. Iya, dan masa tersebut pernah terjadi, puluhan tahun silam.
“Mungkin karena itulah sang guru memilih diam.”
Baginya, pernah melatih seseorang mungkin bukan sesuatu yang harus diumumkan.
Ilmu yang pernah diberikan tidak harus selalu diikuti klaim bahwa, “Saya pernah mengajarinya.”
Sebab seorang guru sejatinya tidak sedang menanamkan ilmu untuk memperoleh nama. Ia hanya menjalankan apa yang dahulu juga diterimanya dari generasi sebelumnya.
Kemudian ilmu itu berpindah, dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi. Dan, setelah muridnya berjalan jauh, sang guru cukup menyaksikan dari tempatnya berdiri.
Ada sesuatu yang sederhana tetapi dalam dari kisah ini.
Sejarah organisasi mungkin akan terus mencatat siapa yang berada di atas panggung. Tetapi, sejarah keilmuan sering kali justru hidup di tempat yang jauh lebih sunyi.
Di halaman latihan, di bawah lampu temaram, ditemani tetes keringat perjuangan.
Di antara seorang pelatih dan seorang siswa.
Tanpa kamera, tanpa publikasi, tanpa jabatan, hanya ada ilmu yang diwariskan, dan seorang guru yang namanya mungkin tidak pernah disebut.
Namun, jejaknya pernah ada di dalam perjalanan seorang murid yang kemudian dikenal sejarah. Sayangnya, jejak ini memilih jalan sunyi, saat pelatih dan siswa, atau guru dan muridnya hari ini memilih sudut pandang berbeda dalam dinamika organisasi.

Follow




Tinggalkan Balasan