Hukuman Yang Berbudi Luhur

Oleh Hendra W Saputro
Anggota Humas PSHT Pusat Madiun

Jangan dipikir anak seorang Ketua Cabang perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) lantas dimanja pada waktu latihan silat. Jangan dipikir anak seorang Tingkat II lantas dispesialkan. Ternyata 2 hal keberuntungan hidup itu tidak berlaku untuk saya lho.

Ketika berlatih pencak silat, saya tetap kena hukuman ketika salah. Kena hajar ketika bermalas-malasan. Kena tegur ketika keliru berargumentasi.

Ketika booming film layar lebar “Harley Davidson and the Marlboro Man” tahun 1992, saya menyelinap keluar dari latihan silat. Masih berbaju sakral silat dan hanya ditutupi jaket, starter motor dan pergi ke bioskop Kranggan di Kota Mojokerto yang berjarak 7 km dari tempat latihan.

Itu salah besar! Dan ya, di latihan berikutnya saya kena hukuman. Setelah Osdower (olah gerak fisik untuk pemanasan) teman-teman pada istirahat. Saya tetap disuruh berdiri ditengah-tengah balai Desa Kupang. Melalui komando Mas Azis saya lanjut Osdower, sendirian!

Bertubi-tubi saya terima perintah dengan nada keras dari Mas pelatih. “Pasang! Tendangan A 50 kali!” Maka saya pun lakukan tendangan A dengan kaki kanan. “Ganti kiri! Tendangan A 50 kali!” Saya pun menuruti sampai kaki ini susah untuk diangkat alias gempor. Apakah selesai? Belum. Lanjut lagi tendangan C, T, push up, skot jump masing-masing 50 kali. Keringat deras bercucuran dan tanpa terasa air mata meleleh.

Saya dihukum, ditonton teman-teman dan para mas-mas pelatih. Diakhir hukuman itu Mas Azis teriak tanya ke saya. “Tahu kesalahanmu?” Sambil menunduk, ngos-ngosan saya jawab tidak. Mas Azis pun bertanya, “Kemana kamu kemarin malam? Latihan belum selesai kamu minggat.” Owalah, saya jadi ingat “Harley Davidson and the Marlboro Man” hehehe. Maaf Mas, terbata-bata dalam isakan.

Dilain waktu saya kena hukuman lagi karena malas-malasan menuruti perintah Mas pelatih. Ketika dalam latihan, semua disuruh lakukan 10 kali gerakan, saya hanya lakukan 7 hehehe. Maka pada saat sabung (latihan berkelahi), saya jadi bulan-bulanan sasaran tendangan, pukulan dari Mas pelatih. Tapi ya ada lah serangan balik dari saya. Sedikit hehehe. Memar-memar bro.

Apakah ada maksud dari hukuman itu? Ya ada! Terima kasih mas-mas pelatih 🙂

Hukuman tadi mempertajam teknik tendangan saya. Hukuman tadi memperkaya teknik berkelahi. Melatih mental tanggung jawab. Salah ya harus ada dihukum! Ketika beragama pun ada hukumannya kalau salah.

Ketika jaman kuliah di Universitas Udayana, insting itu berguna ketika melihat anak Jimbaran sok jagoan yang nge-bully teman-teman saya. Daripada jatuh korban lagi, akhirnya ya saya ajak berkelahi anak itu. Ayo nge-bully saya aja. Biar selesai sok jagoan nya. Biar dia tahu bahwa ada anak pendatang yang siap menghajar atas kesok jagoan nya dia.

Saya pribadi merasa miris dan prihatin pada akhir-akhir ini ada Mas pelatih yang menghukum, menghajar siswa nya tanpa ada nilai didalamnya. Misal, siswa hanya disuruh sikap senam 16 kemudian dipukul dan ditendang. Jelas itu kontak fisik yang tidak seimbang. Bahkan tidak adil. Ibaratnya dia dilucuti senjatanya, tak berkutik dan dia dapatkan serangan searah thok. Nggak fair dan tidak mendidik sama sekali. Ada yang berujung pada kematian siswa gara-gara pola hukuman seperti itu.

Ternyata, setelah berdiskusi dengan senior di PSHT, jaman dulu pola-pola hukuman seperti itu tidak ada. Pola-pola nge-bully dengan kontak fisik searah itu tidak ada pada jaman Mas Imam atau Mas Madji.

Nah lo. Stop bullying dengan kontak fisik tanpa makna ya. Harus bisa membedakan antara “latihan dengan keras dan latihan dengan kekerasan.”

Yuk bagikan!

About Humas PSHT Pusat Madiun

Humas PSHT Pusat Madiun Kepengurusan 2016 - 2021