Idul Kurban 1440 H: Antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

Oleh : M. Agus Susilo
(Pengurus Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Bidang Organisasi)

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan Dzulhijjah 1440 H ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia sedang melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama makhluk (ummat manusia). Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status social dimana antara kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama (pakaian ihram). Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji, wukuf di padang Arafah. Hal ini juga mengingatkan pada kita semua bahwa kelak di Yaumil Mahsyar (Padang Mahsyar) semua manusia akan dikumpulkan dan dimintai pertanggungjawaban atas amal ibadahnya.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi dan muhasabah bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari ini, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat secara berjamaah, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban (udliyah) bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim as yang diuji oleh Tuhan untuk menyembelih putra terkasihnya yakni Nabi Ismail as. Dalam konteks ritual di PSHT, i’tibar/ pelajaran serupa juga diterapkan kepada para siswa putih calon Warga untuk menyembelih Ayam Jago terpilih yang disukai dan disenanginya untuk disedekahkan pada malam selamatan Wisuda/Pengesahan Warga Baru setiap bulan Muharram.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim as yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat, perintah Tuhan-pun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih karena digantikan dengan seekor gibas/domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al-Qur’an Surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari kisah ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia (nilai-nilai humanisme universal).

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya yaitu al Muwafaqat. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqashid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishash, larangan pembunuhan dan sebagainya. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia.

Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya? Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran baru yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin.

Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.
Semoga dengan peristiwa pemberantasan terorisme di beberapa daerah beberapa waktu lalu hingga saat ini, maka mati pula radikalisme, terkubur pula agama yang berwajah seram.

Disinilah, pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha 1440 H ini, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transendental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan (social humanism).

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban untuk para dlu’afa. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi dan cinta kasih terhadap sesama.
Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban secara ritual dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks (beyond the texs), bukan memahami teks secara literal (scriptural).

Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha. Disinilah pentingnya memahami makna filosofis “Hari Raya Kurban”.
Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama. Kurban dalam bahasa Arab sendiri disebut dengan “qurbah” yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ritual Idul Adha itu terdapat apa yang biasa disebut udliyah (penyembelihan hewan kurban). Pada hari itu kita menyembelih hewan tertentu, seperti domba, unta, sapi, atau kerbau, guna memenuhi panggilan Tuhan. Idul Adha juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan Nabi Ibrahim as. Idul Adha bermakna keteladanan Ibrahim yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan total seorang Ibrahim pada titah sang pencipta. Dalam ajaran PSHT, untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan para warganya selalu menggunakan bahasa simbolik seperti segala macam ubo rambe yang disediakan dalam selamatan yang pada prinsipnya merupakan wasilah (perantara) yang bertujua untuk peningkatan derajat keimanan dan ketaqwaan serta kembali kepada keabadian dan kesempurnaan.

Bagi Ali Syari’ati (1997), ritual kurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Sementara bagi Jalaluddin Rakhmat (1995), ibadah kurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial Islam, mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang kekurangan.
Dengan berkurban, kita mendekatkan diri kepada mereka yang fakir. Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda wajib berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila Anda puasa, Anda akan merasa lapar seperti mereka yang miskin. Ibadah kurban mengajak mereka yang mustadh’afiin (kelompok yang lemah/miskin/marginal/terpinggirkan) untuk merasakan kenyang seperti Anda.

Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ritus kurban memiliki tiga makna penting sekaligus.

Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Kurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi.

Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah saw melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah kurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Kurban adalah media ritual, selain zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaaan sosial itu.

Ketiga, makna bahwa apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas, korup dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki.

Menurut Ali Syari’ati, kisah penyembelihan Ismail, pada hakikatnya adalah refleksi dari kelemahkan iman, yang menghalangi kebajikan, yang membuat manusia menjadi egois sehingga manusia tuli terhadap panggilan Tuhan dan perintah kebenaran. Ismail adalah simbolisasi dari kelemahan manusia sebagai makhluk yang dla’if, gila hormat, haus pangkat dan jabatan, lapar kedudukan, dan nafsu berkuasa. Semua sifat dla’if itu harus disembelih atau dikorbankan.

Pengorbanan nyawa manusia dan harkat kemanusiaannya jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan agama mana pun. Untuk itu, Ibrahim tampil menegakkan martabat kemanusiaan sebagai dasar bagi agama tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw dalam ajaran Islam. Ali Syari’ati mengatakan Tuhan Ibrahim itu bukan Tuhan yang haus darah manusia, berbeda dengan tradisi masyarakat Arab saat itu, yang siap mengorbankan manusia sebagai “sesaji” para dewa.

Ritual kurban dalam Islam dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus mata rantai tradisi membunuh manusia demi “sesaji” Tuhan. Manusia, apa pun dalihnya, tidak dibenarkan dibunuh atau dikorbankan sekalipun dengan klaim kepentingan Tuhan.

Lebih dari itu, pesan Idul Adha (Kurban) 1440 H ini juga ingin menegaskan dua hal penting yang terkandung dalam dimensi hidup manusia (hablun minannas).

Pertama, semangat ketauhidan, keesaan Tuhan yang tidak lagi mendiskriminasi ras, etnik, suku, agama atau keyakinan manusia satu dengan manusia lainnya. Di dalam nilai ketauhidan itu, terkandung pesan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apa pun (teologi pembebasan).

Kedua, Idul Adha juga dapat diletakkan dalam konteks penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap adil, toleran, dan saling mengasihi tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan profetis agama itu sendiri.

Masalahnya, spirit kemanusiaan yang seharusnya menjadi tujuan utama Islam, dalam banyak kasus tereduksi oleh ritualisme ibadah-mahdlah. Seakan-akan agama hanya media bagi individu untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, yang lepas dari kewajiban sosial-kemanusiaan. Keberagamaan yang terlalu teosentris dan sangat personal itu, pada akhirnya terbukti melahirkan berbagai problem sosial dan patologi kemanusiaan.
Al Qur’an menganjurkan kita agar mengikuti agama Ibrahim yang hanif, lurus dan tidak menyimpang. Selain hanif, agama Ibrahim juga agama yang samaahah (tasamuh), yang toleran terhadap manusia lain. Pesan kurban harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat, seperti perwujudan kesejahteraan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi. Sulit membayangkan jika banyak umat yang saleh secara ritual, khusyuk dalam berdoa, dan rajin berkurban, tetapi justru paling tak peduli pada tampilnya kemungkaran, korupsi, kemiskinan, mafia peradilan dan lain-lain.

Pesan kurban harus bisa ditangkap sebagai langkah konkrit untuk membebaskan umat dari belenggu kemiskinan di negeri ini.
Sekaranglah saatnya kita mewujudkan penegakan solidaritas dan keadilan sosial sebagaimana diajarkan Nabi Ibrahim as, dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol penegakan nilai-nilai ketuhanan di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang kian individual, pragmatis, dan menghamba pada materi. Karena, seperti kata Rabindranath Tagore (1985), Tuhanmu ada di jalan di mana orang menumbuk batu dan menanami kebunnya, bukan di kuil yang penuh asap dupa dan gumaman doa para pengiring yang sibuk menghitung lingkaran tasbih.

Pelajaran Berharga dari Kisah Siti Hajar

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah: 158).
Ketika Ibrahim menempatkan Siti Hajar di tempat yang gersang, tandus dan sangat asing baginya, maka Hajar pun bertanya kepada suaminya, “Apakah ini kehendak Allah?” Ibrahim menjawab bahwa apa yang ia lakukan semata-mata hanya berdasarkan perintah Allah. Karena perintah atau kehendak Allah, maka Hajar rela ditinggalkan suaminya di tempat yang gersang, tandus dan jauh dari tempat tinggal suaminya. Ia pasrah pada kehendak mutlak Allah. Ia rela ditinggalkan hanya bersama anaknya, Ismail. Tidak ada orang lain.

Di sinilah mengandung makna bahwa orang Islam harus patuh dan tunduk kepada kehendak mutlak Allah.
Setelah perbekalan yang ia bawa habis, maka Hajar tidak duduk termangu dan menangis putus asa menyesali nasib. Hajar tidak duduk berpangku tangan menunggui putranya. Ia tidak mengharapkan keajaiban. Ia tidak mengharapkan kedatangan tangan gaib yang akan membawakan buah-buahan dari sorga dan membuatkan sungai untuk menghilangkan lapar dan dahaganya. Ia “serahkan” anaknya kepada Allah, kemudian berlari-lari mencari air. Dari sini berarti orang harus berserah-diri hanya kepada Allah, kemudian berusaha, bukan berpangku tangan, bukan menyesali nasib, bukan meratap menangis, dan bukan berdoa mengharapkan keajaiban.
Jerih payah Siti Hajar tidak mendatangkan hasil. Dengan sedih ia kembali ke tempat anaknya. Akan tetapi, di tengah-tengah kedukaannya itu ia terkejut: Anak yang ditinggalkannya dalam keadaan haus dan meronta-ronta di bawah “penjagaan” Allah itu ternyata telah menggali pasir dengan tumitnya dan dari tempat yang tidak disangka-sangka itu keluarlah air yang ia cari-cari. Inilah Zamzam. Ia (zamzam) diperoleh setelah berdaya upaya walau didapat bukan di tempat di mana ia dicari.

Pelajaran yang bisa diambil adalah rizki hanya diperoleh hanya melalui usaha, setelah usaha. Kalau dari tempat usaha (beraktifitas, beramal) itu tidak mendapatkan apa-apa, bisa jadi Allah akan memberinya dari tempat lain yang tak terduga sebelumnya. Jadi, bisa saja rezeki yang diperoleh itu tidak dari tempat di mana ia berusaha/bekerja. Di sini berlaku yarzuqhu min haytsu la yahtasib (memberinya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka).
Hajar mencari air dimulai dari bukit Shafa, kemudian berlari ke bukit Marwa. Shafa berarti “kesucian” dan Marwa berarti “kemurahan dan kemaafan.” Berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwa disebut Sa‘i. Kata sa‘i dalam kazanah ilmu nahwu sharaf merupakan bentuk masdar dari kata sa‘a – yas‘a – sa‘ian yang berati “berusaha, berkerja, berjalan, berlari.”

Sa‘i ini dilakukan dengan gerak mau ke depan di jalan yang lurus. Ini berarti, orang harus berusaha. Usahanya diawali dari tempat yang suci, dengan niat yang suci dan dijalani dengan bergerak maju di atas jalan yang lurus. Berlari bolak-balik adalah sebuah evaluasi diri yang senantiasa harus dilakukan untuk menilai diri supaya kerja/usaha yang dilakukan tetap berpijak pada tempat yang suci, niat yang suci, dan tetap ditempuh di jalan yang lurus, jalan yang benar.

Hasil dari usaha itu berakhir di Marwa yang berarti “kemurahan dan kemaafan.” Artinya, hasil usaha tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk kepentingan bersama, sebagaimana air Zamzam bukan hanya untuk Hajar dan Ismail, tetapi untuk seluruh umat manusia. Kalau ternyata orang yang ikut menikmati hasil usaha itu tidak berterima kasih kepadanya, maka ia harus berlapang dada memaafkannya.

Apa Definisi Kurban ?

Sebenarnya istilah yang baku bukan ber-qurban, tetapi menyembelih hewan udliyah. Sebab kata “Qurban” atau Qarib artinya mendekatkan diri kepada Allah. Padahal yang disunnahkan adalah melakukan ibadah ritual yaitu menghilangkan nyawa hewan udliyah, baik dengan cara dzabh (menyembelih) atau nahr (menusuk leher unta dengan tombak), sebagai bentuk ritual peribadatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi inti ritualnya adalah pada prosesi penghilangan nyawa hewan udliyah itu sendiri. Namanya ritual, jadi kita tidak bicara tentang hikmah atau makna apa yang tersirat di belakang peristiwa itu. Ritual ya ritual, sebagaimana kita mengenal istilah itu. Shalat adalah ibadah ritual, di mana kita diperintahkan untuk berdiri dan menghadap ke arah kiblat, sebelumnya kita harus melakukan ritual dulu yaitu membasuhkan air ke wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala dan membasuh kaki hingga mata kaki. Ritual shalat itu terdiri dari gerakan berdiri, ruku’ (membungkuk), sujud, duduk tasyahud. Juga terdiri dari bacaan ritual tertentu, yaitu doa iftitah, membaca surat Al-Fatihah, bacaan tasyahud dan seterusnya.
Semua itu adalah ritual khusus yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, di mana dahulu malaikat Jibril khusus turun ke bumi mendemonstrasikan gerakan dan bacaan ritual shalat di hadapan Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau pun mengikuti gerak dan bacaan ritual itu dan beliau bersabda kepada kita, ‘Shallu kama raaitumuunii ushalli’ (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat).

Bentuk ritual yang lain adalah berjalan berputar mengelilingi empat dinding ka’bah sebanyak 7 putaran, mulai dari hajar aswad dan finish di tempat yang sama. Putarannya berlawanan dengan arah jarum jam kalau dilihat dari atas, dan searah dengan jarum jam kalau dilihat dari bawah tanah. Sebelumnya harus melakukan ritual wudhu’.
Ritual lainnya lagi adalah berjalan kaki 7 kali bolak balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah, juga harus dalam keadaan suci dari hadats. Kita juga mengenal ritual lainnya yaitu gerakan melempar batu ke satu titik, yang kita kenal dengan istilah melempar jumrah (jamarat). Yakni jumratul uula, jumratul wustha dan jumratul aqabah.

Pendeknya semua adalah ritual, di mana Nabi SAW sama sekali tidak memberikan alasan logis atau hikmah terpendam di balik semua ritual itu. Kalau orang betawi bilang, “Udeh dari sononye emang begitu.”

Menyembelih Udliyah

Nah, kali ini ritualnya adalah melakukan penyembelihan. Bentuknya mengiris leher kambing, unta, sapi atau kerbau hingga urat lehernya terputus dan mati. Dan selesai. Disunnahkan untuk membaca nama Allah dan bertakbir, lafadznya adalah: “Bismillahi Allahu Akbar.” Dan disebutkan Allahumma hadzihi udliyah ‘an fulan, yang artinya: Ya Allah, aku persembahkan hewan udliyah ini untuk si fulan.”

Adapun urusan membagi daging hewan itu kepada yang mustahiq, di luar ritual tersebut di atas. Maka di masa lalu, di manhar (tempat penyembelihan hewan) di Mina, tubuh-tubuh kambing atau unta yang telah disembelih dibuang begitu saja, tidak ada yang mengurusinya. Toh ritualnya sudah tercapai.

Baru akhir-akhir ini ada badan sosial yang peduli dengan nasib umat Islam di berbagai wilayah yang ditimpa kelaparan dan kemiskinan, maka didirikan pabrik kornet agar daging-daging itu bisa dimanfaatkan secara lebih luas.

Bagaimana pembagian daging kurban? Secara umum, daging hewan udliyah ini dibagi menjadi tiga bagian.

Pertama, dimakan oleh yang menyembelih dan keluarganya. Kedua, untuk dihadiahkan dan ketiga untuk diberikan kepada fakir miskin. Kecuali bila udliyah itu bernilai wajib, di mana seseorang sebelumnya telah bernadzar untuk menyembelih, maka menurut sebagian ulama, dagingnya tidak boleh dimakannya sendiri tapi diberikan kepada fakir miskin.

Kurban dalam Perspektif Historis

Sebenarnya, syariat berkurban merupakan warisan ibadah yang paling tua. Karena berkurban mulai diperintahkan sejak zaman Nabi Adam as. Yaitu saat Nabi Adam as tidak menemukan cara yang adil dalam menikahkan anak-anaknya yang kembar. Meskipun sudah diputuskan menikah secara silang. Sampai akhirnya Allah SWT mewahyukan agar kedua anak Adam, Habil dan Qabil melaksanakan kurban untuk membuktikan siapa yang diterima. Habil berkurban dengan ternaknya unta dan Qabil berkurban dengan tanamannya gandum.

Sampai disini Allah SWT sebenarnya ingin menguji hamba-hambaNya, mana yang dengan suka rela menerima perintahnya, dan mana yang menentangnya. Habil dengan ikhlas mempersembahkan kurbannya dan karenanya diterima. Sedangkan Qabil karena tidak tulus dalam menjalankan perintah berkurban, tidak diterima, sehingga dengan nekad juga ia membunuh saudaranya.
Inilah peristiwa pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia.

Kemudian syariat berkurban dilanjutkan dengan Nabi-Nabi berikutnya. Seperti firman Allah SWT di bawah ini:
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj : 34)

Peristiwa berkurban paling fenomenal dibuktikan oleh Bapak Tauhid, Khalilullah, Ibrahim Alaihissalam. Ibrahim yang menanti seorang putra sejak lama itu diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putra semata wayangnya, Isma’il alaihissalam.

Ujian berat menyergapnya, antara melaksanakan perintah Allah SWT atau membiarkan hidup putranya dengan tidak melaksanakan perintah Allah SWT, toh putranya nanti akan melanjutkan perjuangan bapaknya. Alasan ini kelihatan begitu rasional. Bisa menjadi pembelaan diri dan pembenaran pilihan.
Namun, Ibrahim sudah teruji ketaatannya kepada Allah SWT. sehingga tiada ragu ia akan melaksanakan perintah Allah SWT. Perintah itu dikomunikasikan dengan putranya Isma’il.

Betapa bangganya sang ayah yang mendengar ketegasan putranya, “Wahai Ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan menemukan diriku termasuk orang yang penyabar.”

Rangkaian kisah hebat itu Allah SWT rekam dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Ash-Shaffat:100-110)

Nikmat Allah berupa syariat itu kembali diaktualisasikan oleh nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Perintah itu digambarkan dalam surat pendek, surat Al-Kautsar: 1-3 “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” Sebelum Allah swt memerintahkan berkurban, terlebih dulu Allah SWT mengingatkan betapa nikmat pemberian Allah SWT begitu banyak “Al Kaustar”, atau juga berarti telaga kautsar di surga. Kalau kita mencoba merenung, nikmat Allah SWT yang besar adalah nikmat diciptakanya kita sebagai manusia. Makhluk Allah SWT yang paling mulia dan paling baik bentuknya, “

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin : 4) Nikmat menjadi peran khalifatullah fil ardli, perwakilan Allah SWT untuk memakmurkan bumi dan isinya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah:30)

Nikmat anggota badan yang begitu menakjubkan dan luar biasa. Betapa sangat mahalnya kesehatan itu ketika satu mata dihargai ratusan juta, satu ginjal juga tak kalah mahalnya dll . Makanya Allah SWT kembali mengingatkan “Dan pada diri kalian, apakah kalian tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat:21)

Dan yang paling besar anugerah Allah SWT adalah nikmat Iman dan Islam. Ini digambarkan Allah sendiri, ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Al-Ma’idah:3)

Hakikat Berkurban

Setelah Allah SWT menyebut nikmat-nikmat yang begitu banyak itu, Allah swt mengingatkan hamba-hambaNya agar mau melaksanakan perintah-perintahNya: perintah shalat lima waktu atau shalat Idul Adha dan berkurban sebagai bukti rasa syukur kepadaNya. Bahkan Rasulullah SAW memerintahkan berkurban dengan bahasa yang tegas dan lugas bahkan disertai ancaman. Ancaman untuk tidak dekat-dekat dengan tempat shalat atau dengan istilah lain tidak diakui menjadi umat Muhammad. Sebagimana hadits Nabi SAW:

“Dari Abu Hurairah ra., Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri (mendekati) tempat shalat kami”. (Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Berkurban tidak sekadar mengalirkan darah binatang ternak, tidak hanya memotong hewan kurban, namun lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan total terhadap perintah-perintah Allah SWT dan sikap menghindar dari hal-hal yang dilarangNya. Allah SWT ingin menguji hamba-hambaNya dengan suatu perintah, apakah ia dengan berbaik sangka kepadaNya dan karenanya melaksanakan dengan baik tanpa ragu-ragu? Laksana Nabi Ibrahim as. Berkurban adalah berarti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan karenanya seluruh sisi kehidupan seseorang bisa menjadi manifestasi sikap berkurban. Atau seperti Qabil yang menuruti logika otaknya dan kemauan syahwatnya, sehingga dengan perintah berkurban itu, ia malah melanggar perintah Allah SWT dengan membunuh saudara kembarnya sendiri? Ia berusaha mensiasati perintah Allah SWT dengan kemauannya sendiri yang menurutnya baik.

Namun di situlah letak permasalahannya: ia tidak percaya perintah Allah SWT? Berkurban juga berarti upaya menyembelih hawa nafsu dan memotong kemauan syahwat yang selalu menyuruh kepada kemunkaran dan kejahatan.

Seandainya sikap ini dimiliki oleh umat Islam, subhanallah, umat Islam akan maju dalam segalanya. Betapa tidak, bagi yang berprofesi sebagai guru, ia berkurban dengan ilmunya. Pengusaha ia berkurban dengan bisnisnya yang fair dan halal. Politisi ia berkurban demi kemaslahatan umum dan bukan kelompoknya. Pemimpin ia berkurban untuk kemajuan rakyat dan bangsanya dan begitu seterusnya. Kita berani menyembelih kemauan pribadi yang bertentangan dengan kemauan kelompok, atau keinginan pribadi yang bertentangan dengan syariat. Bahkan kemauan kelompok namun bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Dengan semangat ini, bentuk-bentuk kejahatan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan di bumi pertiwi ini.
Karena itu Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj:37)

Dan berkurbanlah. Kurban menjadi kebiasaan yang melegakan, bukan menjadi beban dan keterpaksaan. Karena memang kurban tidak sekadar memotong hewan.

Memaknai Kurban untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Idul Adha tahun ini juga merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengembalikan jati diri bangsa yang masih terkoyak akibat Pemilu yang lalu. Momentum ibadah haji harus kita jadikan sebagai media untuk menanggalkan segala atribut keegoisan, perbedaan dan keserakahan.

Berkumpulnya sebagian ummat Islam dari berbagai belahan dunia mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari ridlo Allah SWT. Ibadah haji merupakan suatu lambang dari puncak ketangguhan pribadi dan puncak ketangguhan sosial.

Haji adalah sublimasi dari shalat dan keseluruhan rukun Iman. Haji merupakan lambang perwujudan akhir dari Rukun Islam. Haji merupakan suatu langkah penyelarasan nyata antara alam pikiran dengan praktek. Haji adalah suatu simbul praktek yang sempurna, transformasi dari suatu pikiran ideal (fitrah) ke alam nyata secara sempurna.

Haji adalah keselarasan antara Iman dan Islam. Secara prinsip Haji merupakan suatu konsep berfikir yang berpusat hanya kepada Allah, yang akan menumbuhkan kesadaran diri (self awareness), hakikat diri, jati diri dan sebagainya.

Secara sosial, haji merupakan simbol kolaborasi tertinggi yaitu pertemuan pada skala tertinggi dimana umat Islam sedunia melaksanakan langkah yang sama dengan landasan prinsip yang sama pula. Haji merupakan simbol dari siklus kehidupan manusia (life cycle), diawali dangan kelahiran yang fitrah dan diakhiri dengan kematian yang fitrah pula plus pertanggungjawaban semasa menjalankan misi Tuhan sebagai Rahmatan lil ‘alamin.

Di samping ibadah haji, saat ini ummat Islam juga merayakan Idul Adha 1440 H. Momen ini mari kita jadikan sebagai muhasabah terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini. Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi makin merajalela di negeri tercinta ini. Kasus suap menyuap/sogok menyogok, “markus” atau makelar kasus masih mewarnai negeri ini.

Demi menumpuk kekayaan mereka rela menanggalkan “baju” ketakwaan dan melindungi kejahatan. Ambisi untuk mendapatkan kekayaan secara instan telah memaksa seseorang untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama.

Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan (teologis/ilahiah). Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat serta kepasrahan total terhadap ajaran agama.
Mungkin kita selama ini sering khilaf berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual an sich tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial.

Mungkin kita rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali (tak terhitung), namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Mudah-mudahan kita bisa mengambil momentum ini untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial dalam rangka untuk martabat sebagai bangsa. Dengan senantiasa mengagungkan asma Allah, dengan senantiasa berdzikir.

Semoga kita mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada.

Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan/keluhuran budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan ketaatan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh.

Semoga kita bisa senantiasa menundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Bisa mencampakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT.

Apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapa pun perkasa, kita lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Mudah-mudahan dengan muhasabah dalam rangka memperingati Idul Adha 1440 H ini akan menggugah kesadaran kita untuk senantiasa rela berkorban untuk negeri kita tercinta yang tidak pernah luput dirundung bencana dan kesusahan.

Dalam kondisi seperti ini sebenarnya kita banyak berharap dan mendoakan mudah-mudahan para pemimpin kita, elit-elit politik kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara. Pengorbanan untuk kepentingan orang banyak tidaklah mudah, berjuang dalam rangka mensejahterahkan umat memang memerlukan keterlibatan semua pihak. Hanya orang-orang bertaqwalah yang sanggup melaksanakannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H, bagi yang menjalankan…

Ditulis dan disarikan oleh M.A.S dari berbagai sumber.

Semoga bermanfaat dan Salam Persaudaraan Lahir Batin 🙏🙏🙏

Yuk bagikan!

About Humas PSHT Pusat Madiun

Humas PSHT Pusat Madiun Kepengurusan 2016 - 2021