(Peragaan gerak kuda kuda bawah di PSHT)
Sekilas tentang rangkaian gerak yang menyasar bagian persendian kaki, seperti sambungan otot paha dan betis, atau posisi kaki yang dikait lalu dijatuhkan, bahkan hingga menyasar ke bagian vital (kemaluan), terdengar mematikan namun ternyata rangkaian gerak tersebut punya esensi yang sangat dalam.
Biasanya, rangkaian gerak tersebut dimulai dengan posisi kaki yang jongkok, sempok, atau jengkeng dengan bagian badan yang ditopang oleh otot paha dan betis, di mana hal tersebut sangat menguras tenaga. karena selain menyerang, pesilat juga dituntut agar bisa mempertahankan kuda kuda nya yang kokoh.
Dalam Pencak Setia Hati, khususnya pada Jurus karya Harjo Utomo (Samingoen), gerakan tersebut mengedepankan ketepatan serangan, dan dapat dijumpai sejumlah permainan di dalamnya, seperti gunting, B dobel, gejroh menggunakan tumit, sapuan hingga ungkitan, namun semua rangkaian gerak ini selalu menyasar pinggang ke bawah dari bagian tubuh manusia.
Mendengar gerakan bawah yang amat mematikan ini, maka membuat orang tertarik untuk mempelajarinya. namun, sadarkah jika seseorang yang sudah sampai pada tahap jurus ini malah dituntut untuk bisa menopang berat tubuh nya sendiri, dengan esensi yaitu
“mengalahkan diri sendiri ternyata jauh lebih sulit”.
Lewat makna esensi yang terdapat pada Jurus Bawah ini, diharapkan pula orang yang telah mempelajarinya bisa muncul sifat “Andap Asor” atau Rendah Hati, dan jauh dari sifat jumawa.
Karena, sasaran yang mengincar persendian pinggang bagian bawah termasuk kemaluan itu tak ubahnya adalah tuntutan agar manusia bisa lebih berhati hati atas apa yang dilakukan dalam kehidupan.
Setelah membaca esensi dari rangkaian jurus bawah yang amat mematikan ini, apa yang lantas dipikirkan oleh seseorang?. Apakah rangkaian gerak tersebut bisa digunakan untuk mengalahkan lawan dengan sekejap dan secepat mungkin, atau membuat manusia lekas sadar jika ada tuntutan Nafsu yang harus diruntuhkan lalu dikendalikan?.
Sehingga, arti sebenarnya dari tujuan mengenal diri pribadi dapat terwujud. Maka, sebuah renungan hadir,
“Apakah Jurus Bawah yang mematikan ini untuk mengalahkan orang lain, atau justru mengalahkan diri sendiri??!!”.

Follow





Tinggalkan Balasan