Sapu Jalanan Dan Keroyok Massal, Revisi Kurikulum Tidak Tertulis Di PSHT

Bagi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), pengesahan anggota baru di bulan Suro adalah kegiatan yang begitu sakral, namun bisa juga menjadi momen horor tahunan bagi masyarakat umum.

Setiap bulan Suro tiba, masyarakat tidak sibuk berdoa memohon berkah, melainkan harap harap cemas jika berpapasan dengan gerombolan “warga” di jalan raya.

 

– Berkumpulnya Sang Penguasa Jalanan

Gerombolan itu datang berbondong bondong, dengan konvoi massa, menyalakan flare, sampai memblokir jalan, seolah aspal tersebut adalah warisan nenek moyang mereka sendiri.

Gerombolan ini datang menguasai jalan menggunakan pakaian hitam, dan menggunakan kain kafan. Iya, kain pembungkus jika manusia mati, namun, mereka ini seolah tidak mempersiapkan kematiannya dengan baik, sungguh kontradiktif!.

Jika ada pengendara atau orang yang berani menatap gerombolan ini, selamat!, anda baru saja memicu perang dunia ketiga tingkat kecamatan.

 

– Konvoi Massa, Solidaritas Tanpa Logika

Filosofi dari gerombolan ini sebenarnya bagus, yaitu persaudaraan yang erat, sampai sampai jika satu orang tersenggol “karena kecerobohannya sendiri”, maka satu batalyon siap terjun tanpa mau kompromi.

Dari sini, kita bisa melihat pencapaian yang sangat mengagumkan, apalagi melihat bagaimana latihan fisik ditempa sekian tahun akhirnya berujung output konsisten: tawuran atau bentrok antar perguruan.

Mungkin, niat baiknya adalah “membela yang lemah”. Namun, tampaknya ada kesalahan cetak di buku panduan menjadi “membela yang salah”.

Akhirnya, solidaritas tanpa logika ini sungguh romantis, mirip kisah cinta remaja, bukan sekuntum bunga, atau hal yang berkesan indah. Tapi, versi yang ini memberi kesan takut dengan membawa senjata tajam dan batu bata, atau mungkin, minuman keras?.

 

– Refleksi : Menatap Kain Mori Sebagai Cermin

Ketika konvoi telah bubar, dan kepulan asap knalpot mulai hilang, yang tersisa di jalanan hanyalah rasa takut dari masyarakat umum.

Di titik ini, mari kesampingkan sejenak ego, lalu berani menatap kain mori kita sendiri sebagai cermin secara jujur.

“Kain mori yang melingkar di pinggang itu sejatinya adalah pengingat akan kain kafan saat mati kelak.”

“Kain itu adalah simbol kesucian hati sekaligus pengingat bahwa manusia akan mati dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.”

Namun, sungguh ironis ketika simbol kematian itu justru digunakan untuk menebar teror ketakutan, sehingga PSHT hari ini sedang menghadapi tantangan tersebarnya, yaitu buruknya citra organisasi.

 

– Belum Terlambat, Ayo Berbenah!

Jika kekuatan fisik hanya melahirkan penindasan, lalu di mana letak “Setia Hati”?. Jika persaudaraan hanya diartikan sebagai pembelaan buta terhadap kawan yang bersalah, maka itu bukan lagi budi luhur, melainkan premanisme berkedok pesilat.

Kejayaan sebuah perguruan silat tidak pernah diukur dari seberapa banyak orang yang merasa takut saat melihat gerombolan PSHT di jalan raya saat malam pengesahan.

Kejayaan sejati ada pada rasa aman yang dirasakan masyarakat ketika para pendekar berada di sekitar mereka, persis seperti filosofi “Memayu Hayuning Bawono.”

Jadi, saudaraku sekalian, tulisan ini dibuat sejatinya untuk mengetuk hati kita, membuka mata selebar – lebarnya, untuk kemudian kita sadari bersama, bahwa belum terlambat untuk berbenah bagi PSHT!

Yuk bagikan!

About sojianto