Tabuhan Genderang Sang Dalang Untuk Kehancuran PSHT

Kenanganku membawa masa ketika aku menggunakan seragam putih biru.

Saat itu aku duduk di bangku paling depan dan guru sejarah menceritakan bagaimana Indonesia dijajah 3,5 abad lamanyan. Dari penjelasan guruku, aku ingat betul materi tentang dahsyatnya politik pecah belah (Adu Domba).

Kini ketika aku dewasa, ada satu hal yang membuat aku bertanya tanya. apakah masih dapat diterapkan strategi politik pecah belah di zaman sekarang ini?

Ingin rasanya aku menjawab tidak, tapi faktanya masih ada.

Beberapa tahun belakangan ini, malah dapat disaksikan dengan mata kepala kita. Bagaimana perpecahan terjadi dimana-mana.

Ternyata, walau sejak ribuan tahun lalu, strategi politik pecah belah telah digunakan manusia dari berbagai bangsa sebagai jalan menghancurkan kekuatan lawan-lawannya. Tapi, di zaman modern yang serba canggih ini, strategi ini masih ampuh.

Terbukti dalam tubuh organisasi besar PSHT. Organisasi yang berdiri sejak era sebelum kemerdekaan bangsa ini. kini posisi organisasi itu diujung tanduk. Genderang perang ditabuh, dengan alunan politik adu domba (Pecah Belah).

Politik pecah belah dinilai banyak kalangan sebagai strategi ampuh untuk bisa melemahkan, menghancurkan, kemudian menguasai pihak lawan.Salah satu bentuk politik pecah belah ialah politik adu domba.

Satu pihak atau beberapa pihak akan dibenturkan dengan pihak lain. Benturan itu akan menyebabkan perpecahan dan kehancuran di setiap pihak.

Jika setiap pihak sudah hancur, kekuatan mereka menjadi kecil dan lemah.Jika sudah kecil dan lemah, pihak-pihak itu akan bisa dikuasai dengan mudah. Caranya dengan mengembuskan sentimen horizontal di masyarakat yang tujuannya menimbulkan benturan.

Istilahnya adalah devide et impera, ‘pecah, dan kuasai’. Ini sama dengan tradisi orang Inggris; devine and rule, atau orang Arab bilang farriq, tassud!’ yang berarti sama, ‘pecah dan perintahlah!’

Siapa yang pernah menduga, bahwa organisasi besar “PSHT” yang terbentuk puluhan tahun silam bahkan sebelum kemerdekaan bangsa ini dengan memiliki sejarah begitu panjang, serta mendapatkan julukan organisasi paling solid dikarenakan organisasi ini berlandaskan nilai-nilai persaudaraan, tapi kenyataanya kini PSHT dapat dipecah belah.

Polemik ditubuh PSHT terjadi berawal melalui adanya upaya menggulingkan kepemimpinan, strategi selanjutnya dengan mempengaruhi anggotanya secara masif diakar rumput.

Tentu Ini buka hal kebetulan. Akan tetapi benar benar telah diatur dan disusun skenarionya secara apik.

Bagi anggota yang tidak paham atau mungkin tidak memiliki pengalaman berorganisasi atau bahkan tidak memiliki pendidikan yang memadai. mereka pastinya terpukau dan langsung mempercaya opini yang dihembuskan.

Karena isu yang dihembuskan berkaitan dengan sentimen pribadi dan kedaerahan. Isu ini yang paling laris terjual. Isu yang dihembuskan seolah olah padepokan mau dipindah dari Madiun. Maka muncul istilah Pusat Madiun.

Padahal sudah jelas di dalam Ad/art dan akta notaris hasil parluh 2016-2021, pusat PSHT di Madiun. Dengan opini yang dihembuskan membawa sentimen kedaerahan, alasan inilah yang membuat akar rumput mudah di bohongi dan dipengaruhi.

Diawal-awal perpecahan organisasi PSHT, anggota diakar rumput mudah di propokasi. Mereka diadu domba untuk saling berbenturan dengan saudaranya sendiri. Padahal perbuatan itu melanggar SUMPAH bersama.

Berjalannya waktu, anggota makin sadar. Mana PSHT sah berdasarkan legiminasi hukum. Mereka kembali memegang organisasi yang memang disepakati bersama ketika diawal mubes (parluh) 2016-2021. Harusnya kesepakatan ini dijaga hingga berakhirnya masa jabatan kepengurusan tahun 2021.

Para petinggi (dalang ) sudah tidak mampu membenturkan dulur akar rumput sesama PSHT. hal ini di karenakan dulur PSHT sudah bisa berpikir dewasa, mereka lebih baik mengalah ketika harus di benturkan dengan saudaranya sendiri.

Tapi strategi licik itu berubah. Hal ini dapat kita saksikan bersama baru-baru ini. PSHT di benturkan dengan ormas Pemuda Pancasila.

Setelah berkecamuk dan banjir darah. Para dalang bermunculan dan memberi statemen seolah olah yang berselisih bukan dari golonga PSHT pusat madiun akan tetapi dari PSHT.

Akupun bertanya, apakah PSHT DAN PSHTPM sudah berbeda, ya?

Mengapa ketika PSHT dan para sepuh di lecehkan, mereka mengatakan bukan bagian dari PSHT. Mereka mengatakan dari golongan persaudaraan setia hati terate pusat madiun.

Opini diatas sangatlah propokasi. Begitu menyakitkan hati insan terate se antero nusantara. Seolah ada PSHT berpusat diluar Madiun.

Sehari setelahnya, ada lagi peristiwa pengeroyokan dulur PSHT yang menggunakan kaos shorenk. Seorang pemuda di datangi kerumun anggota perguruan IKS Kera Sakti karena melintas di tengah tengah kegiatan perguruan tersebut saat bagi takjil berbuka puasa. Anggota PSHT tersebut menggunakan kaos dengan identitas hati bersinar.

Pertanyaannya, apakah pemuda itu benar-benar anggota PSHT? Atau mungkin seseorang yang sengaja di tugaskan untuk membuat propokasi membenturkan PSHT dan IKS?.

Tentu ini sebuah konspirasi licik para dalang elit. Mereka ingin membenturkan PSHT dengan ormas ormas yang ada. Mohon disikapi denga bijak dan penuh pertimbangan. Jangan sampai para dalang menabuh perang dengan menggap kita sebagai domba aduan.

Mari jaga keamanan negeri ini. Sudah banyak kerugian kita di masa pandemik ini.

Teruslah berpegang dengan ajaran poro pinisepuh kita untuk ikut serta memayu hayuning bawono.

Semoga para dalang segera diberi kesadaran.

Insyallah, PSHT akan tetap jaya abadi selama lamanya dan terus bermanfaat serta berbuat untuk negeri ini.

Penulis : Muhammad Solihin Lentera Dunia

Yuk bagikan!

About Humas PSHT

Humas PSHT kepengurusan 2016 - 2021